KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank SMBC Indonesia Tbk (
BTPN) atau SMBC Indonesia mencatatkan penurunan laba bersih pada tahun 2025 secara konsolidasi sebesar 82,02% secara tahunan atau
year on year (yoy) menjadi Rp 506 miliar, dari Rp 2,81 triliun pada 2024. Sementara itu, pendapatan bunga secara konsolidasi tercatat sebesar Rp 24,3 triliun atau naik 2,96% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp 23,6 triliun. Beban bunga tercatat susut tipis 0,64% YoY dari Rp 8,38 triliun menjadi Rp 8,32 triliun.
Alhasil, pendapatan bunga bersih perseroan tumbuh 4,94% YoY menjadi Rp 15,99 triliun pada 2025. Pada 2024, pendapatan bunga bersih mencapai Rp 15,24 triliun. Dengan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) terjaga di level 7,0% di tengah suku bunga kredit yang kompetitif, kenaikan biaya pendanaan, dan volatilitas pasar yang terus berjalan. Adapun beban operasional lainnya melonjak 42,38% YoY menjadi Rp 15,36 triliun, dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp 10,79 triliun.
Baca Juga: Laba Bersih Bank SMBC Indonesia Turun 23,85% Jadi Rp 1,7 Triliun per Kuartal III 2025 Selain itu, SMBC Indonesia mencatat kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment) naik 107,54% YoY menjadi Rp 8,08 triliun dari periode yang sama tahun lalu Rp 3,89 triliun. “Kinerja konsolidasi SMBC Indonesia periode 2025 mencerminkan strategi kami yang berfokus pada fundamental bisnis yang didasari oleh tata kelola yang baik,” ujar Henoch Munandar, Direktur Utama SMBC Indonesia dalam siaran pers, Selasa (3/3/2026). Di sisi kredit, SMBC Indonesia mencatat pertumbuhan secara konsolidasi sebesar 3,3% yoy menjadi Rp 185,4 triliun pada akhir 2025. Pertumbuhan ini didorong oleh sejumlah segmen, seperti segmen korporasi dan komersial yang meningkat 6,5% yoy dan realisasi kredit Jenius di luar Digital Micro yang tumbuh 11,3% yoy. Ini membuat total aset SMBC Indonesia secara konsolidasi ikut naik 2,0% yoy mencapai Rp 245,9 triliun pada Desember 2025. Realisasi penyaluran kredit konsolidasi sepanjang 2025 juga ditopang oleh struktur pendanaan yang semakin efisien, dengan nilai pendanaan berbasis dana murah (CASA) yang naik 16,7% yoy menjadi Rp 53,2 triliun dan rasio CASA yang tumbuh menjadi 40,6%.
Baca Juga: Piutang Multifinance Tembus Rp 508,27 Triliun, NPF Naik pada Januari 2026 Secara konsolidasi, total DPK SMBC Indonesia tumbuh 8,0% yoy menjadi Rp 131,0 triliun pada akhir tahun lalu untuk menopang kebutuhan pendanaan tahun 2025. SMBC Indonesia senantiasa menjaga rasio likuiditas dan pendanaan di tingkat yang sehat, dengan liquidity coverage ratio (LCR) mencapai 229,4% dan net stable funding ratio (NSFR) 123,0% per 31 Desember 2025. Kedua rasio tersebut juga merefleksikan upaya SMBC Indonesia dalam menerapkan prinsip kehati-hatian untuk menjaga likuiditas dan permodalan tetap kuat. Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) konsolidasi tercatat di angka 29,3% pada akhir tahun 2025. Angka CAR tersebut di atas rata-rata industri 25,9% dan menunjukkan ruang untuk lebih mengembangkan bisnis dan melayani lebih banyak nasabah di berbagai segmen ke depannya. Bank mencatatkan gross non-performing loan ratio secara konsolidasi berada di level 2,6% pada akhir Desember 2025, sedikit membaik dibandingkan 2,8% pada akhir September 2025. Perbaikan ini merupakan upaya untuk senantiasa menerapkan manajemen risiko yang sehat.
Lebih lanjut, Henoch menerangkan, secara konsolidasi, SMBC Indonesia memperkuat pencadangan kerugian penurunan nilai (CKPN), terutama di anak perusahaan, yaitu Grup OTO.
SMBC Indonesia menilai pencadangan tersebut merupakan respons yang bijaksana terhadap dinamika ekonomi pada tahun 2025, serta upaya perusahaan induk konglomerasi keuangan (PIKK) dalam menerapkan prinsip kehati-hatian dan menjaga permodalan tetap kokoh. Menurutnya, kenaikan CKPN secara konsolidasi merupakan upaya sebagai PIKK untuk senantiasa meningkatkan standar penerapan tata kelola perusahaan yang baik, serta menjaga kualitas aset dan ketahanan bank. "Dengan demikian, laba bersih konsolidasi SMBC Indonesia yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp 506 miliar untuk tahun 2025,” jelas Henoch. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News