Bank Sulit Turunkan Bunga Deposito, Pemberian Special Rate Jadi Biang Kerok



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Upaya menurunkan suku bunga deposito perbankan masih menghadapi tantangan. Salah satu ganjalannya adalah praktik pemberian bunga spesial (special rate) kepada deposan besar yang porsinya masih signifikan.

Sebelumnya Lembaga Penjamin Simpanan mencatat porsi simpanan berbunga tinggi dan praktik special rate untuk deposan besar masih menjadi penghambat utama penurunan bunga deposito.

Per Desember 2025, simpanan dengan suku bunga di atas tingkat bunga penjaminan (TBP) mencapai 33% dari total simpanan. Angka ini meningkat dari 30% pada 2024 dan 25% pada 2022. Di saat yang sama, porsi dana pihak ketiga (DPK) dengan special rate juga masih tinggi, yakni sekitar 26,42%.


Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu, mengatakan fenomena ini terjadi meskipun TBP selama ini dipatok di atas suku bunga pasar. Bahkan pada 2025, TBP sempat berada di bawah bunga pasar.

Baca Juga: Dewan Penasihat Medis Dorong Klaim Asuransi Kesehatan Berbasis Pertimbangan Medis

Menurutnya, salah satu pemicu utama adalah praktik pemberian bunga spesial melalui mekanisme tertentu, termasuk lelang dana.

“Kata mereka (bank) karena lelang. Lelang kan besaran bunganya mengikuti hasil lelang,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).

Selain itu, persaingan penghimpunan dana yang masih ketat membuat bank tetap menawarkan bunga tinggi untuk menjaga likuiditas. Kondisi ini pada akhirnya menahan penurunan bunga deposito dan kredit.

Bank Indonesia juga mencermati suku bunga deposito 1 bulan baru turun sebesar 68 bps dari 4,81% pada Januari 2025 menjadi 4,13% pada Januari 2026.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menilai, perlambatan penurunan bunga ini tidak lepas dari masih tingginya praktik pemberian special rate kepada deposan besar yang porsinya mencapai sekitar 26,42% dari total dana pihak ketiga (DPK).

Menurutnya, upaya untuk menekan special rate perlu terus dilanjutkan agar transmisi penurunan suku bunga berjalan lebih efektif.

“Penurunan suku bunga dana tersebut juga perlu makin ditransmisikan ke penurunan suku bunga kredit perbankan,” ujarnya.

Ia mencatat, suku bunga kredit juga baru turun terbatas, yakni sekitar 40 bps dari 9,20% pada awal 2025 menjadi 8,80% pada Januari 2026.

Baca Juga: Saham BBTN Catatkan Kinerja Positif pada Kuartal I-2026, Begini Saran Analis

Ke depan, BI menilai penurunan suku bunga dana dan kredit perlu terus didorong guna meningkatkan pertumbuhan kredit. Langkah ini dinilai penting untuk menopang aktivitas ekonomi dan menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan.

Sejumlah bank mengakui praktik ini masih terjadi, meski perlahan mulai ditekan seiring dorongan regulator, termasuk Bank Indonesia.

Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan, pemberian special rate merupakan bagian dari strategi hubungan nasabah secara keseluruhan dan telah diperhitungkan dalam biaya dana (cost of fund).

Special rate hanya diberikan dalam skema total relationship pricing, terutama bagi nasabah dengan hubungan bisnis yang luas. Secara keseluruhan, kami tetap mengendalikan cost of fund,” ujarnya.

Ia mengakui, tekanan biaya dana masih dipengaruhi komposisi DPK yang didominasi dana non-ritel yang relatif lebih mahal. Hal ini terjadi karena pertumbuhan dana ritel cenderung terbatas.

Untuk mengatasi hal tersebut, CIMB Niaga mendorong peningkatan dana murah (current account saving account/CASA). “Pertumbuhan CASA kami lebih tinggi dibanding deposito, dengan rasio CASA sudah di atas 70%,” tambahnya.

Senada, Head of Deposit Product Management Bank Mandiri, Mega Ekaputri Pujianto, menyebut tekanan dari special rate masih ada, tetapi mulai terkendali.

Ia bilang, permintaan bunga spesial dari deposan besar saat ini relatif stabil. Strategi bank pun bergeser dari kompetisi bunga ke penguatan ekosistem layanan.

Baca Juga: Outlook Negatif Indonesia Tekan Rating Surat Utang Bank yang Dirilis di Luar Negeri

“Fokus kami pada digitalisasi dan cash management untuk menjaga loyalitas nasabah tanpa harus bergantung pada suku bunga tinggi,” ujarnya.

Bank Mandiri juga menjaga rasio CASA di atas 71% guna menekan biaya dana, di tengah rasio kredit terhadap dana (loan to deposit ratio/LDR) yang tetap sehat di atas 90%.

Sementara itu, Direktur Network & Retail Funding Bank Tabungan Negara, Rully Setiawan, melihat tren special rate mulai menunjukkan penurunan.

Menurutnya, hal ini sejalan dengan arahan regulator dan kondisi likuiditas yang lebih stabil. “Bank terus menyesuaikan kebijakan suku bunga dengan kondisi pasar dan menjaga efisiensi biaya dana,” ujarnya.

BTN sendiri menempuh sejumlah strategi untuk mengurangi ketergantungan pada deposito mahal, antara lain memperkuat kanal digital seperti Bale, meningkatkan relationship management, serta mendorong cross selling ke produk investasi lain.

Namun demikian, Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai special rate masih menjadi faktor utama yang menahan penurunan bunga deposito.

Ia mencatat, porsi DPK special rate meningkat dari 23,43% pada Desember 2024 menjadi sekitar 26,6% pada Desember 2025. Kondisi ini membuat biaya dana tetap tinggi dan ruang penurunan bunga menjadi terbatas.

“Upaya menekan special rate sudah tepat, tetapi efeknya tidak instan. Permintaan memang mulai mereda di permukaan, namun secara fundamental masih tinggi,” jelasnya.

Baca Juga: Transaksi Kartu Kredit CIMB Niaga Meningkat 5% pada Kuartal-1 2026, Ini Pemicunya

Menurut Josua, meskipun likuiditas industri masih memadai—tercermin dari pertumbuhan DPK yang mencapai dua digit dan rasio alat likuid yang masih tinggi—biaya mempertahankan dana besar tetap mahal karena deposan jumbo memiliki daya tawar kuat.

Ke depan, ia memproyeksikan suku bunga deposito masih akan turun, namun secara bertahap dan cenderung terbatas. Faktor eksternal seperti ketidakpastian global, suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama, hingga tekanan nilai tukar juga menjadi pertimbangan bank untuk tetap berhati-hati.

“Penurunan bunga deposito akan berjalan gradual. Special rate kemungkinan turun, tetapi tidak drastis dalam waktu dekat,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News