Bank Swasta Gencar Gelar Buyback Saham, Cek Prospeknya



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah bank swasta ramai-ramai mengumumkan rencana pembelian kembali alias buyback saham. 

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dari jajaran big banks telah mengumumkan rencana buyback maksimal Rp 5 triliun yang berlaku hingga Maret 2027. Berdasarkan prospektusnya, jumlah saham yang dibeli kembali tak bakal melebihi 10% dari modal disetor perusahaan. 

Buyback ini bakal dilakukan BBCA menggunakan dana internal, dengan hasilnya dicatat sebagai saham tresuri yang menjadi pengurang ekuitas perusahaan nantinya. Total ekuitas bank berdasarkan laporan keuangan Desember 2025 bakal berkurang dari Rp 281,5 triliun menjadi Rp 275,3 triliun. 


Baca Juga: BTN Genjot Penyaluran KPP, Realisasi Capai Rp 7,4 Triliun

Seiring itu, aset bank berkurang dari Rp 1.586,8 triliun menjadi Rp 1.581,8 triliun, laba bersih tahun berjalan turun dari Rp 57,5 triliun menjadi Rp 57,3 triliun, dan rasio permodalan (CAR) turun dari 29,76% menjadi 29,18%. Namun, ROE naik dari 23,28% menjadi 23,67%. 

Menurut Corporate Secretary BCA Rudy Budiaryo, eksekusi buyback ini nantinya bakal mempertimbangkan kondisi pasar.

“Tujuannya adalah apabila market terlalu volatile, perusahaan akan masuk untuk menunjukkan bahwa kita confident terhadap fundamental kita,” kata Rudy dalam paparan publik belum lama ini. 

Ada pula PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) berencana melaksanakan buyback dalam periode 3 September–2 Desember 2026, dengan nilai maksimal Rp 300 miliar. Allo Bank juga melancarkan buyback untuk menjaga stabilitas harga saham agar lebih mencerminkan kinerja.

Allo Bank bakal menggunakan saldo laba ditahan dalam eksekusi buyback ini. Berdasarkan posisi keuangan 30 Juni 2026, setelah buyback bakal terjadi penurunan total aset dan ekuitas sebesar Rp 300 miliar masing-masing menjadi Rp 15,27 triliun dan 7,04 triliun, laba bersih sebesar Rp 6,00 miliar menjadi Rp 227,66 miliar, dan ROA menjadi 3,98% dari 4%. Namun, ROE bank bakal naik dari 6,31% menjadi 6,41%. 

Selanjutnya ada PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) yang juga merencanakan buyback dengan durasi 12 bulan sejak Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 13 Oktober 2026 nanti, dengan nilai maksimal Rp 1 triliun. 

Melalui aksi ini, diharapkan likuiditas perdagangan saham BTPS dapat meningkat sehingga harganya lebih mencerminkan nilai fundamental perusahaan. Nantinya, dana yang dipakai bakal berasal sepenuhnya dari ekuitas perusahaan. 

Baca Juga: Biaya Kesehatan Naik, Asuransi Memperkuat Underwriting Berbasis Data

Berdasarkan laporan keuangan 30 Juni 2026, total aset dan ekuitas BTPS bakal susut Rp 1 triliun begitu buyback dilaksanakan, masing-masing menjadi Rp 22,30 triliun dan Rp 9,25 triliun. Pun laba bersihnya susut Rp 5,32 miliar menjadi Rp 650,16 miliar. Namun, laba per saham dasarnya nanti naik dari Rp 85,09 menjadi Rp 94,54. 

Menurut Managing Director Research Samuel Sekuritas Harry Su, pada dasarnya rencana buyback saham tak selalu dieksekusi. “Sekadar rencana. Untuk membantu sentimen saham,” sebutnya. 

Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya sepakat bahwa buyback dapat memberikan penopang jangka pendek karena mengurangi pasokan saham di pasar dan memperkuat sentimen. Jika jumlah saham beredar efektif berkurang, laba per saham juga dapat meningkat secara mekanis.

Namun, efeknya biasanya tak permanen jika tak diikuti perbaikan fundamental. “Pasar tetap akan menilai pertumbuhan kredit, margin, kualitas aset, dan profitabilitas masing-masing bank,” jelas Andrey.

Ia bilang buyback di antaranya bertujuan untuk menstabilkan harga di tengah volatilitas pasar, meningkatkan efisiensi modal, serta menyediakan saham treasuri untuk program remunerasi karyawan. Sehingga, aksi ini tak otomatis berarti kinerja jangka pendek bakal segera membaik. 

Secara teoretis, buyback bakal menekan rasio permodalan bank. Namun, selama nilainya relatif keci dibandingkan modal dan tetap memenuhi ketentuan regulator, Andrey bilang dampaknya seharusnya terbatas. 

Apalagi untuk BBCA yang punya kapasitas paling kuat berkat profitabilitas, likuiditas, dan permodalan yang solid. 

Menurutnya BTPS juga memiliki permodalan yang relatif tinggi, meskipun perlu mempertahankan bantalan modal untuk menghadapi risiko kualitas aset pada segmen ultra-mikro. Sementara untuk BBHI, kecukupan dananya perlu dilihat bersama dengan kebutuhan modal untuk mendukung pertumbuhan serta pengembangan bisnis digital.

Di sisi lain Analis Kiwoom Sekuritas Kevin Yudha Pratama menyoroti nilai buyback BTPS yang menurutnya cukup besar dibanding ekuitas. Namun menurutnya itu masih bisa dikompensasi dengan posisi modal yang kuat serta laba per saham yang berpotensi naik. 

 
BBCA Chart by TradingView

Kevin melihat masing-masing saham punya daya tarik yang berbeda. BBCA masih unggul dari sisi kualitas franchise, dengan basis dana murah yang kuat dan kualitas aset yang terjaga.

Pun ia bilang BTPS cukup menarik karena posisi modalnya masih tebal, valuasinya relatif rendah, dan kualitas pembiayaan mulai membaik. Sementara BBHI punya potensi dari pertumbuhan kredit yang masih tinggi dan dukungan ekosistem digital. 

Sementara Andrey menyebut BTPS, meski buyback dapat membantu sentimen, tetapi pemulihan kualitas pembiayaan dan pertumbuhan nasabahnnya perlu menjadi katalis yang lebih penting. Maka, pendekatan bagi investor masih selektif. 

Sementara itu, Andrey menilai BBHI cenderung lebih spekulatif karena investor perlu menunggu bukti monetisasi ekosistem digital dan profitabilitas yang berkelanjutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News