KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Likuiditas perbankan tahun depan akan semakin bertambah sejalan dengan kebijakan Bank Indonesia (BI) menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) rupiah sebesar 50 basis poin. Tambahan likuiditas ini akan memberikan ruang bagi bank untuk meningkatkan penyaluran kredit. Dengan pemangkasan itu maka GWM yang berlaku untuk bank umum konvensional dan bank umum syariah maupun unit usaha syariah masing-masingnya menjadi 5,5% dan 4,0%. Dari penurunan 50 bps itu, perbankan akan mendapat tambahan likuiditas sebesar Rp26 triliun. Baca Juga: BCA siapkan Rp 5 triliun untuk belanja modal IT tahun depan
Sejumlah perbankan menyambut baik keputusan BI yang akan mulai berlaku efektif pada 2 Januari 2020 tersebut. Panji Irawan, Direktur Keuangan Bank Mandiri berharap tambahan likuiditas dari pelonggaran GWM itu diharapkan dapat meredakan persaingan dalam memperebutkan Dana Pihak Ketiga (DPK) serta mendorong pertumbuhan kredit. Per September 2019, Bank Mandiri secara bank only mencatatkan total DPK sebesar Rp 784 triliun. "Dengan asumsi DPK Bank Mandiri 7%-9%, maka penurunan GWM 0,5% akan menambah likuiditas sekitar Rp 4 triliun- Rp 5 triliun tahun 2020," ungkap Panji pada Kontan.co.id, Jumat (22/11). Namun, Panji belum bisa menyampaikan target kredit yang akan dipasang Bank Mandiri tahun 2020 dengan memperhitungkan pelonggaran GWM tersebut karena menurutnya masih dalam proses penyusunan. Hanya saja, sebelumnya dia memberi taksiran target tahun depan sekitar 9%-10%.