Bankir optimistis KPR tumbuh signifikan di 2017



JAKARTA. Sejumlah bank memasang target pertumbuhan cukup tinggi untuk kredit pemilikan rumah (KPR) pada tahun ini. Misalnya, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk yang mematok pertumbuhan KPR tahun 2017 sebesar 15% year on year (yoy).

Meski begitu, target tersebut masih berada di bawah pencapaian Mandiri sepanjang 2016. Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri, Rohan Hafas mengatakan, pada akhir 2016, Bank Mandiri berhasil membukukan realisasi penyaluran KPR sebesar Rp 35 triliun atau tumbuh 17% yoy.

Jika memakai asumsi pencapaian tahun lalu, pada tahun ini, bank berkode saham BMRI ini optimistis mencapai target penyaluran KPR sebesar Rp 40,95 triliun.


Rohan menyebut, optimisme target tersebut didorong oleh relaksasi regulasi yang diinisiasi Bank Indonesia (BI) mengenai pelonggaran uang muka tahun lalu. Regulasi tersebut tertuang dalam Peraturan Bank Indonesia No.18/16/PBI/2016 tentang Rasio LTV untuk kredit properti, rasio financing to value untuk pembiayaan properti dan uang muka untuk kredit atau pembiayaan kendaraan bermotor. "Target tersebut terutama didorong oleh relaksasi regulasi terkait penurunan uang muka," kata Rohan.

Pemain lain, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) memasang target lebih tinggi dibanding pencapaian tahun 2016. Direktur Konsumer BNI, Anggoro Eko Cahyo menyebut, pihaknya optimistis, tahun ini perseroan dapat meningkatkan penyaluran KPR sekitar 7% hingga 10%.

Anggoro mengatakan, selain kondisi ekonomi yang diharapkan membaik pada tahun ini, permintaan kredit perumahan di masyarakat kelas menengah atas khususnya konsumen di kota-kota besar pada tahun ini berpotensi meningkat, "Sekaligus, demand KPR untuk masyarakat kelas bawah oleh konsumen di daerah juga berpotensi meningkat terlihat dari backlog sekitar 12 juta unit," imbuh Anggoro.

Sebagai gambaran, sepanjang 2016, bank berlogo 46 ini telah menyalurkan kredit perumahan sebesar Rp 36,43 triliun atau tumbuh 5%. Artinya, BNI mematok peyaluran KPR sebesar Rp 38,98 triliun hingga Rp 40,07 triliun pada tahun ini. "Strategi BNI, kita akan kolaborasi dengan developer yang kredibel, cross selling dengan konsumen business banking BNI dan optimalisasi cabang," papar Anggoro

Berdasarkan analisis uang beredar yang dirilis BI, per November 2016, posisi kredit properti tercatat sebesar Rp 697,1 triliun. Angka tersebut tumbuh sebesar 13,4 % secara tahunan, capaian ini lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 12,8%. Adapun, kenaikan tersebut didorong oleh peningkatan pertumbuhan KPR dan KPA serta kredit konstruksi. KPR dan KPA tercatat tumbuh sebesar 7,5% yoy atau senilai Rp 362,8 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Dupla Kartini