Bantah Harga Beras Tinggi, Mentan: Beras Tak Jadi Penyumbang Inflasi Utama



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membantah tudingan bahwa harga beras mengalami lonjakan tajam di tengah pasokan melimpah mencapai 5 juta ton. 

Amran menegaskan bahwa dalam dua tahun terakhir, komoditas beras tidak lagi menempati urutan teratas sebagai kontributor inflasi. 

Amran meminta masyarakat dan pelaku pasar untuk melihat pergerakan harga pangan menggunakan rasio data, bukan berdasarkan asumsi atau perasaan semata.


Baca Juga: Pajak Kekayaan di Persimpangan: Didukung Publik, Tapi Ditunda Pemerintah

"Kita jangan pakai rasa, kita pakai rasio. Inflasi, penyumbang inflasi dulu, ini dua tahun terakhir bukan beras penyumbang inflasi utama. Dulunya selalu nomor satu, dua, atau tiga, tapi sekarang tidak lagi," ujar Amran pada awak media, Jumat (24/4/2026). 

Amran juga memastikan bahwa harga beras dipantau ketat meskipun ada lonjakan biaya produksi imbas kenaikan biaya logistik dan kemasan. 

Amran mengatakan pemerintah belum ada wacana untuk penyesuaian Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk beras Stabilisasi Pasokan dan ahrga Pangan (SPHP). Beras pemerintah ini menurutnya akan dijadikan sebagai instrumen penyeimbang jika terjadi fluktuasi harga di pasar. 

Selain SPHP, Amran juga menekankan pentingnya kepatuhan terhadap Harga Eceran Tertinggi (HET).Menurutnya, saat ini tidak ada alasan bagi pedagang atau produsen untuk menaikkan harga di atas ketentuan, mengingat stok beras pemerintah saat ini melampaui 5 juta ton. 

"Dulu kalau kita impor, alasannya ada, kurang beras jadi harga naik. Sekarang tidak ada alasan. Kami minta seluruh produsen jangan bermain-main dengan pemerintah. Kami akan turun mengecek kembali seluruh harga," tegasnya. 

Baca Juga: Menkeu Purbaya: Ada Pengecualian Negara di Aturan Terbaru DHE SDA

Amran mengakui adanya kenaikan harga di beberapa titik tertentu, namun hal itu lebih disebabkan oleh kendala distribusi yang terlambat, bukan karena kelangkaan pasokan. 

Amran mengklaim dalam dua kali masa lebaran terakhir, harga beras relatif stabil. 

Sementara itu, Kadiv Perencanaan Operasi dan Analisa Harga Pasar Bulog, Muhammad Wawan Hindayanto memastikan bahwa Perum Bulog terus memantau perkembangan harga beras di pasar. 

Wawan mengakui bahwa masih ada kenaikan harga di beberapa lokasi. Namun menurutnya hal itu bukan karena kekurangan pasokan beras melainkan karena harga kemasan yang mengalami lonjakan tajam. 

"Kendalanya di kemasan, untuk stok kami punya tapi terkendala dengan kemasan," lanjutnya. 

Mengantisipasi hal ini, Bulog menyebut akan menggunakan kemasan lama yang tersisa untuk program PSO (Public Service Obligation) atau beras subsidi. 

Selain itu, Bulog juga kembali melakukan lelang ulang pengadaan kemasan untuk memenuhi program bantuan pangan beras SPHP dan Minyakita. 

"Kami sudah lelang dua kali, itu gagal karena ada kondisi Selat Hormuz mengakibatkan harga bijih plastik naik tinggi sehingga belum ada produsen yang berani memasukkan penawarannya," jelas Wawan. 

Untuk meredam harga di beberapa wilayah, Bulog berkomitmen untuk mempercepat penyaluran bantuan pangan. "Harapannya untuk mengurai permintaan beras maupun minyak goreng di pasar," ungkap Wawan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News