Bantah Kolaps, Gunbuster Nickel Industry Sebut Operasional Produksi Berjalan Normal



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) membantah kabar yang menyebut operasional smelter perusahaan kolaps. Manajemen memastikan kegiatan produksi hingga kini tetap berjalan normal.

Vice Head of Department Operation GNI, Eddy Hartono menegaskan informasi mengenai shutdown lima lini produksi dari total 20 lini tidak benar.

“Sehubungan dengan pemberitaan di beberapa media nasional yang menyebutkan PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) mengalami kolaps dengan narasi “shutdown 5 line dari 20 line”, bersama ini kami menyampaikan klarifikasi bahwa informasi tersebut tidak benar dan merupakan misinformasi,” ujar Eddy Hartono lewat keterangan pers yang diterima Kontan, Rabu (4/3/2026).


Eddy menyatakan seluruh aktivitas produksi dan operasional perusahaan berjalan sesuai perencanaan dan standar operasional.

Baca Juga: 3 Smelter Dikabarkan Tutup Akibat Pemangkasan RKAB Nikel, Ini Kata APNI

“GNI masih menjalankan kegiatan operasional secara normal. Seluruh aktivitas produksi dan operasional perusahaan berjalan sebagaimana mestinya sesuai dengan perencanaan serta standar operasional yang berlaku,” paparnya.

PT GNI tambah Eddy, berkomitmen untuk tetap menjalankan operasional perusahaan secara berkelanjutan, mengutamakan keselamatan kerja, serta menjaga stabilitas produksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

"Perusahaan juga terus melakukan evaluasi dan penguatan kinerja operasional guna mendukung keberlangsungan usaha jangka panjang," jelasnya. 

Sebelumnya, dalam catatan Kontan, Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) menyampaikan kondisi operasional 3 perusahaan smelter di Indonesia termasuk PT GNI. 

Perusahaan lainnya adalah PT Huadi Nickel Alloy Indonesia (HNAI) di Bantaeng, Sulawesi Selatan; PT Wanxiang Nickel Indonesia di Morowali, Sulawesi Tengah.

Baca Juga: RKAB Nikel Dipangkas, 3 Pabrik Pemurnian Ini Kolaps

“3 smelter sudah kami konfirmasi (kolaps). Huadi shutdown total, Wanxiang tinggal 2 line, Gunbuster shutdown 5 line dari 20 line,” kata Sekretaris Umum APNI, Meidy Katrin Lengkey saat ditemui di sela diskusi RKAB yang dilaksanakan oleh APINDO di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Kemudian, pada keterangan tertulis APNI pada Selasa, (03/03/2026), dijabarkan terkait kondisi ketiga smelter tersebut dengan detail sebagai berikut:

1. PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) melakukan service atau maintenance terhadap lima lini produksi pada 2026.

2. PT Huadi Nickel menghentikan produksi sejak akhir 2025.

3. PT Wanxiang Nickel Indonesia menghentikan beberapa lini produksi sejak akhir 2025.

"Pernyataan tersebut adalah informasi operasional perusahaan dan tidak dikaitkan sebagai akibat langsung dari kebijakan RKAB," kata Meidy Katrin  dalam keterangan tertulis, Selasa (02/03/2026).

Di sisi lain, Meidy sebelumnya menjelaskan sempat menjelaskan bahwa pemerintah telah menetapkan kuota RKAB nikel tahun 2026 sekitar 250-260 juta ton. Adapun, penyesuaian ini menurutnya merupakan langkah untuk menjaga keberlanjutan jangka panjang, stabilitas pasar, serta optimalisasi nilai tambah nasional.

"Artinya, kebijakan pengurangan produksi tidak menciptakan kelangkaan, melainkan mengoreksi ketidakseimbangan pasar agar lebih sehat dan berkelanjutan," ujarnya.

Baca Juga: RKAB Dipangkas, Industri Smelter Hadapi Gap Pasokan Nikel Hingga 100 Juta Ton

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News