Bantuan LPEI Membuka Akses Produk-Produk Lokal Agar Berani Mendunia



KONTAN.CO.ID - PACITAN. Pelatihan kepada petani atau penderes di berbagai desa terus dilakukan oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank ke berbagai Desa Devisa. Pelatihan ini termasuk pada penderes di Desa Devisa Gula Aren dan Desa Devisa Jahe Gajah tepatnya di Pacitan, Jawa Timur.

Melalui Desa Devisa, LPEI bersama Pemkab Pacitan mengoptimalkan potensi BUMDes dan masyarakat dengan membantu membuka akses produk-produk lokal untuk berani mendunia dan pada akhirnya bantuan ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, merawat lingkungan, dan ekosistem hutan serta memberikan kontribusi nyata terhadap ekonomi negara.

Hingga saat ini, terdapat dua program Desa Devisa yang berlokasi di Pacitan, yaitu Desa Devisa Gula Aren dan Desa Devisa Jahe Gajah yang mendorong agar para petani dan penderes dapat mengembangkan komoditasnya sehingga mampu untuk menjadikan produknya sebagai kualitas ekspor dan penghasil devisa. Jika ditotal, sudah ada 47 Desa dan melibatkan lebih dari 11.000 petani dan penderes yang berpartisipasi dan mengikuti pelatihan dan pendampingan dari LPEI.


Kepala Divisi Jasa Konsultasi LPEI, Ilham Mustafa menjelaskan Program Desa Devisa merupakan program pendampingan yang diinisiasi oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dengan berbasis community development. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat lokal dan mengembangkan komoditas unggulan desa.

"LPEI bersama Pemkab Pacitan terus memberikan serangkaian pelatihan dan pendampingan kepada para petani melalui BUMDes. Program pelatihan dan pendampingan LPEI diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan para petani, penderes dan BUMDes baik dari aspek produksi," kata Ilham saat saat ditemui di Pacitan, Rabu (15/5). 

Baca Juga: Sri Mulyani Akan Terbitkan Aturan Insentif Pajak Penyimpanan DHE SDA Selain Deposito

Selain itu juga diharapkan dapat menunjang dari segi aspek manajemen maupun tata cara ekspor dan diharapkan dapat meningkat kualitas dan kapasitas produksi secara ramah lingkungan Sehingga mampu meningkatkan daya saing produk di pasar global serta menjadi model bagi pengembangan desa berkelanjutan.

Program yang dibuat oleh LPEI ini membuahkan hasil yang positif terhadap dua Desa Devisa di Pacitan, salah satunya terhadap produk Gula Aren Temon yang sudah bisa menembus ke pasar ekspor di tiga negara.

Gula Aren Temon atau CV. Agro Lestari ini dibangun oleh I Gusti Ayu Ngurah Megawati dan suaminya yaitu Heri. Bermula dari sisa uang tabungan mereka yang hanya sebesar Rp 500 ribu saja, kini produk Gula Aren Temon telah berhasil berlabuh ke Kanada, Denmark, dan Jepang.

Saat Covid-19 melanda, Mega dan Heri terus memutar otak untuk bisa menghidupi keluarganya. Suatu hari, Heri tercetus saat melihat penderes di desanya yang tengah mengolah gula aren. Ia berpikir, sepertinya gula aren itu memiliki potensi yang besar untuk diolah lebih menarik lagi.

Kemudian ia mencoba untuk mencari peruntungannya melalui internet, mencari komunitas terkait gula aren, mengirim banyak sampel, dan mencoba mengemas ulang produk gula aren di desanya.

Baca Juga: Kemenkeu Resmikan Desa Nglanggeran Jadi Desa Keuangan Pertama di Indonesia

Hingga saat ini, Gula Aren Temon berhasil mengirim berbagai jenis produknya ke Kanada sebanyak 1,3 ton gula aren cair, kemudian ke Denmark sebesar 900 pcs, dan ke Jepang dengan mengirimkan sample produknya. 

Gula Aren asal Pacitan ini tela memproduksi tiga varian produk, yaitu aren cair, gula aren semut, dan juga gula aren mini cube. Produk gula aren semut dan gula aren mini cube dihargai Rp 15.000 per pcsnya kemudian produk gula aren cair 250 ml dan 1000 Liter yang masing-masing dihargai Rp 15.000 dan Rp 50.000.

Kini, Gula Aren Temon bisa memperoleh pendapatan hingga Rp 700 ribu per harinya. Jika diakumulasi dalam 30 hari, pendapatan mereka bisa mencapai Rp 21 juta. Peningkatan pendapatan ini tentunya juga selaras dengan peningkatan pendapatan kepada para penderes.

"Alhamdulillah sangat memengaruhi sekali dengan branding dari brand kami, dan meningkatkan penjualan kami 50% Dari yang biasanya. Dan saat ini penjualan kami 70% di lokal, 30% di ekspor,” kata Heru saat ditemui di Pacitan, Rabu (15/5). 

Gula Aren Temon saat ini memiliki luas lahan sekitar 150 hektare. Jumlah pohon yang menghasilkan gula aren di lahan tersebut sebanyak 500 pohon, total ini termasuk dari total pohon yang produktif dan juga yang tidak produktif. 

Baca Juga: Ekspor Batik Aromaterapi Tingkatkan Kesejahteraan Perajin Perempuan Madura

Adapun total petani atau penderes yang bergabung dalam usahanya tercatat sebanyak 72 penderes. Meskipun semua petani ini tidak selalu ada setiap harinya, lantaran adanya rotasi pada musim-musim tertentu. 

“Harapan saya untuk ke depannya adalah dengan adanya sertifikat organik yang kita miliki, akan meningkatkan penjualan dari produksi kita, dan akan menyerap produksi gula aren yang ada di Kabupaten Pacitan,” tuturnya.

Karena sertifikat organik tersebut kerap dipertanyakan oleh para buyer di luar negeri. Upaya ini juga ia lakukan untuk meningkatkan penjualan serta memperluas pasarnya hingga dapat menyentuh pangsa luar negeri. 

Lebih lanjut, Heru bilang, adanya pendampingan LPEI sangat bermanfaat. Seperti pelatihan ekspor dan sarana produksi yang menunjang para penderes untuk meningkatkan kapasitas, dan memiliki akses dengan para buyer melalui business matching yang dimiliki oleh LPEI. 

Tak hanya gula aren saja, di Pacitan juga memiliki Desa Devisa Jahe Gajah. Memang Namanya terdengar kurang familiar, karena biasanya masyarakat di Indonesia lebih senang mengonsumsi Jahe Emprit dan Jahe Merah.

Baca Juga: LPEI Fasilitasi 104 Eksportir Dapat Pembeli Internasional

Jahe Gajah yang ditanam di Pacitan ini tumbuh hanya setahun sekali karena jahe ini sangat bergantung dengan hujan. Namun, saat ini kemarau datang lebih lama yang membuat gagal panen.

Salah satu penderes Jahe Gajah, Purwanto, mengatakan sangat terbantu dengan pelatihan dan bantuan BUMDes yang dapat menaikkan penghasilannya, serta penghasilan para penderes lainnya. Semula, Jahe Gajah yang ia tanam hanya dibanderol di bawah Rp 9.000. Namun, dengan bantuan yang ia terima sekarang, ia bisa menjual produk Jahe Gajah dengan harga Rp 12.000. 

"Untuk cara menanamnya itu memang sedikit berbeda dengan jahe biasanya. Saat musim kemarau, saya bajak dulu, kalau udah dibajak itu, ya, nunggu hujan aja. Kalau sudah hujan baru saya tanam (bibitnya) lalu dua bulan kemudian mereka akan tumbuh," jelas Purwanto saat ditemui di Pacitan, Kamis (16/5).

Direktur Bumdesa Sejahtera Punjung Lilik Mustafa menyampaikan telah berhasil mengekspor hingga 2 kontainer Jahe Gajah, di tahun 2023 silam. BUMDes berperan untuk memotong memotong rantai distribusi yang begitu banyak, sehingga yang diperoleh oleh petani harganya juga, pihaknya mengatakan tidak menyajikan harga yang lebih tinggi, tapi dengan jalur distribusi yang terpotong ini, otomatis harganya juga akan naik.

Baca Juga: PNM Akan Tetap Fokus pada Pembiayaan Usaha Ultra Mikro

"Peran kami di Kabupaten Pacitan ini, kepada petani terutama, kami menjadi perantara dari para petani untuk menjualkan produk mereka, yaitu berupa jahe gajah, tanpa melalui banyak perantara," kata Lilik di saat yang sama.

BUMDes melihat adanya potensi Jahe Gajah di beberapa negara di Asia karena rasanya yang berbeda dengan rasa jahe yang masyarakat Indonesia konsumsi. Jahe Gajah memiliki rasa yang tidak begitu pedas jika dibandingkan dengan Jahe Emprit dan Jahe Merah.

"Jahe gajah itu justru diminati oleh Bangladesh dan juga Pakistan, terutama juga India juga. Mereka suka karena rasa pedasnya itu enggak terlalu kuat," lanjut Lilik.

Ke depannya, BUMDes berharap mereka dapat merangkul seluruh petani agar petani lebih tergugah lagi bahwa apa yang mereka produksi memiliki potensi yang sangat besar di luar negeri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati