Bantuan Pangan Beras Diperpanjang, Kuota Impor Beras Perlu Direalisasikan Semua?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah akan menyalurkan lagi bantuan pangan beras kepada 21,353 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) pada Oktober, November dan Desember 2023. Artinya dalam, sebulan diperlukan sekitar 210.000 ton atau 630.000 ton untuk tiga bulan.

Maka, Badan Pangan Nasional (Bapanas) memacu Perum Bulog untuk terus melakukan penyerapan beras guna menambah stok melalui pengadaan dari dalam negeri maupun luar negeri.

Selain menyiapkan stok untuk bantuan pangan beras, Perum Bulog juga memiliki tugas untuk mengamankan cadang beras pemerintah (CBP) diangka 1,2 juta ton di akhir tahun ini.


Pengamat pertanian Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori mengatakan, dengan perpanjangan bantuan pangan, program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dan menjaga stok 1,2 juta ton di akhir tahun, maka impor diperlukan selain mengutamakan produksi dalam negeri.

Meski demikian, Khudori tak menampik yang disampaikan Kementerian Pertanian bahwa masih ada 800.000 hektare lahan padi yang akan panen pada Agustus mendatang benar. Namun jika menghitung dampak El Nino, kemungkinan panen akan turun mulai 4%-5%.

"Kalau mengandalkan penyerapan gabah/beras domestik, amat kecil kemungkinannya karena harga tinggi dan musim gadu yang akan disambung musim paceklik. Kalau tidak ada tambahan dari impor, stok yang ada saat ini akan habis untuk bansos beras dan tambahan operasi pasar," jelasnya kepada Kontan.co.id, Rabu (26/7).

Baca Juga: India Hentikan Ekspor Beras, Badan Pangan Sebut Stok Beras Indonesia Tak Terganggu

Apabila hanya mengandalkan produksi dalam negeri dikhawatirkan akhir tahun nanti stok beras pemerintah di Bulog bakal tipis. Meski demikian,  impor beras juga belum tentu bisa membuat stok akhir tahun di Bulog mencapai 1,2 juta ton dengan kondisi saat ini.

"Bapanas kan menargetkan Bulog punya stok akhir 1,2 juta ton. Meski saya tidak yakin ini bisa dipenuhi kalau pun impor direalisasikan," imbuh Khudori.

Hal tersebut lantaran, saat ini sangat tidak mudah mendapatkan beras impor dengan cepat. Hal tersebut berkaca pada saat penugasan impor tahun lalu karena keseluruhan beras impor baru masuk diawal tahun ini.

Sedangkan, di dalam negeri penyerapan beras juga diprediksi akan tidak mudah meski HPP gabah sudah dinaikkan. Pasalnya, harga gabah saat ini sudah di atas Rp5.000/kg bahkan ada yang mendekati Rp6.000/kg.

Ia belum bisa memproyeksikan apakah stok akhir tahun nanti akan lebih sedikit atau sama dengan tahun 2022. Jika kuota 2 juta ton impor direalisasikan seluruhnya dan operasi pasar tak masif, kemungkinan stok CBP akhir tahun nanti bisa lebih besar dari tahun 2022.

"Belum bisa diperkirakan saat ini (stok akhir tahun). Kalau kuota impor direalisasikan semua dan beras yang keluar untuk operasi pasar tidak besar seperti terjadi 3-4 bulan ini, kemungkinan stok akhir tahun lebih besar dari tahun lalu," ujar Khudori.

Sekretaris Perusahaan Perum Bulog Awaludin Iqbal mengatakan, dengan penugasan penyaluran bantuan pangan beras diperpanjang dan kebutuhan SPHP/operasi pasar Ia menyebut stok yang dikuasai akan cukup.

"Insya Allah stok yang kita kuasai cukup untuk melaksanakan bantuan pangan, SPHP serta untuk menjaga stok akhir tahun pada level diatas 1 juta ton," kata Awaludin.

Direktur Distribusi dan Cadangan Pangan Badan Pangan Nasional atau National Food Agency (NFA) Rachmi Widiriani mengatakan saat ini stok beras yang ada di Bulog sekitar 800.451 ton. Adapun beras dari pengadaan luar negeri telah masuk secara bertahap.

"Per hari ini ada 800.451 ton beras di Bulog. Beras pengadaan dari luar negeri masih masuk secara bertahap, sesuai penugasan ke Bulog sebesar 2 juta ton untuk tahun 2023. Asal negara adl Thailand, Vietnam dan Pakistan," kata Rachmi.

Ia merinci beras impor yang masuk di gudang Bulog diantaranya, periode Januari-Maret 2023, masuk 300.000 ton beras dari sisa penugasan 2022. Tahun lalu Bulog mendapatkan penugasan impor sebesar 500.000 ton untuk CBP.

"April sampai 24 Juli sudah  masuk 415.000 ton dari penugasan 2023 sebesar 2 juta ton. (Tahap pertama dari 2 juta ton) betul. Yang  tahap berikutnya belum tiba," kata Rachmi.

Baca Juga: Bantuan Pangan Beras Diperpanjang, Bapanas Tugaskan Bulog Siapkan Penyaluran

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Khomarul Hidayat