Banyak proyek listrik mikro hidro macet



JAKARTA. Pengembangan proyek pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) macet. Salah satu penyebabnya adalah harga jual listrik yang masih rendah serta tak bolehnya investor asing dalam saham proyek PLTMH. 

Direktur Aneka Energi Baru Terbarukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Alihudin Sitompul bilang, minat pengusaha terhadap potensi hidro sebenarnya cukup besar. Hal tersebut terlihat dengan perkembangan proyeksi daya mikro hidro setelah ada kebijakan harga jual listrik yang baru.

Data resmi dari Kementerian ESDM saat ini menunjukkan ada 266 proyek PLTMH di Indonesia. Total daya dari proyek ini mencapai 1.200 Mega Watt (MW) dan membutuhkan dana Rp 2,4 triliun. Namun, dalam paparan PLN yang terakhir, ternyata pemohon Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik atau Power Purchase Agreement (PPA) untuk PLTMH saat ini sudah bertambah.


"Kalau dijumlahkan, PLN mengaku ada 340 proyek PLTMH. Total potensi daya pun naik menjadi 1.400 MW," terangnya akhir pekan lalu.

Meski begitu, dia menyayangkan, antusiasme proyek PLTMH tersebut tak dibarengi dengan lancarnya realisasi proyek tersebut. Pasalnya, dari total 1.200 MW yang sudah dipetakan oleh pemerintah, total daya yang terealisasi baru mencapai 75 MW. 

Sisanya, masih dalam berbagai tahap mulai dari feasibility study hingga konstruksi. Maklum, waktu itu pengembang listrik meminta perubahan harga jual yang hanya Rp 656 per kilo watt per jam (kwh). Saat ini harga jual listrik PLTMH menjadi Rp 1.075 per kWh.

Dia juga mengakui, proyek PLTMH termasuk dalam golongan proyek kecil sehingga investor asing ogah membenamkan duitnya di sana. "Kalau PLTU kan yang turun investor asing karena kapasitas yang besar. Kalau PLTMH, asing hanya boleh memegang 49% saham saja, ini yang menjadi kendala dalam pengembangan PLTMH," ungkap Alihudin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto