Bapanas Dorong Ritel Perkuat Kolaborasi Penyelamatan Pangan untuk Tekan Food Waste



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) mendorong sektor ritel memperkuat kerja sama dengan bank pangan dan berbagai organisasi penyelamatan pangan guna menekan pemborosan pangan (food waste) sekaligus meningkatkan distribusi pangan layak konsumsi kepada masyarakat yang membutuhkan.

Dorongan tersebut muncul di tengah masih rendahnya keterlibatan sektor ritel dalam ekosistem penyelamatan pangan. 

Berdasarkan data Platform Stop Boros Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) per 18 Juni 2026, kontribusi sektor ritel baru mencapai 8,8% dari total mitra penyelamatan pangan yang terdaftar.


Baca Juga: Prabowo Dapat Laporan dari Bos Danantara: 258 Entitas BUMN Telah Dikonsolidasikan

Direktur Kewaspadaan Pangan Bapanas, Nita Yulianis, mengatakan sektor ritel memiliki posisi strategis dalam rantai pasok pangan karena menjadi penghubung antara produsen dan konsumen. 

Maka dari itu, pelaku usaha ritel dinilai memiliki peluang besar untuk memperluas redistribusi pangan yang masih layak dan aman dikonsumsi.

“Ritel memiliki peran penting dalam membangun ekosistem penyelamatan pangan yang berkelanjutan. Melalui kolaborasi dengan bank pangan dan penggiat penyelamatan pangan, sektor ritel dapat memperluas redistribusi pangan yang masih layak dan aman dikonsumsi,” ujar Nita dalam keterangannya di Jakarta, Senin (22/6/2026).

Menurut Nita, kolaborasi yang lebih luas dengan bank pangan dan organisasi penyelamatan pangan dapat meningkatkan manfaat sosial dari pangan yang berpotensi terbuang. 

Selain itu, keterlibatan ritel juga dinilai penting untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.

Ia menambahkan pemerintah terus mendorong penguatan sinergi antar pemangku kepentingan, termasuk melalui edukasi kepada masyarakat, penguatan kolaborasi lintas sektor, serta pendataan dan pelaporan kegiatan penyelamatan pangan yang lebih terstruktur.

Bapanas juga mengajak Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) untuk meningkatkan partisipasi anggotanya dalam berbagai program penyelamatan pangan. 

Menurut Nita, kontribusi sektor ritel yang semakin besar akan memberikan dampak nyata dalam mengurangi sisa pangan sekaligus mendukung target pembangunan berkelanjutan.

Di sisi lain, pelaku usaha menilai pengurangan sisa pangan perlu menjadi bagian dari strategi bisnis yang dijalankan secara konsisten dan terukur.

Direktur Eksekutif APRINDO, Dasep Suryanto mengatakan, terdapat tiga langkah utama yang dapat dilakukan pelaku ritel, yakni membangun komitmen perusahaan, melakukan pengukuran dan menetapkan target pengurangan sisa pangan, serta menjalankan rencana aksi yang konkret dan berkelanjutan.

“Pengurangan sisa pangan dapat dimulai dari komitmen perusahaan yang kuat, dilanjutkan dengan pengukuran yang jelas, dan diwujudkan melalui aksi nyata yang berkelanjutan,” kata Dasep.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang Environmental, Social and Governance (ESG) dan Retail Transformation APRINDO, Yuvlinda Susanta, menilai penyelamatan pangan telah menjadi bagian penting dari strategi bisnis berkelanjutan. 

Menurut Yuvlinda, langkah tersebut tidak hanya memberikan manfaat sosial dan lingkungan, tetapi juga manfaat ekonomi bagi perusahaan.

Yuvlinda menambahkan, pengelolaan sisa pangan yang lebih baik dapat membantu pelaku ritel menghadapi perkembangan regulasi terkait keberlanjutan di masa mendatang. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, sektor ritel, bank pangan, komunitas, akademisi, dan media perlu terus diperkuat.

Ke depannya, pemerintah menerangkan redistribusi pangan layak konsumsi diharapkan dapat semakin luas sehingga mampu menekan angka food waste, membantu masyarakat yang membutuhkan, dan memperkuat ketahanan pangan nasional.

Baca Juga: Cara Cek Pemadaman Listrik dan Ajukan Pengaduan Online lewat PLN Mobile

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News