Bapanas Perluas Bantuan Pangan Beras Fortifikasi, Bidik Wilayah Rawan via FSVA



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Pangan Nasional (Bapanas) memperkuat program bantuan pangan dengan mendorong penggunaan beras fortifikasi berbasis pemetaan Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA) guna meningkatkan ketepatan sasaran wilayah rentan rawan pangan.

Direktur Pengendalian Kerawanan Pangan Bapanas, Sri Nuryanti, menegaskan bantuan pangan tidak hanya berfungsi sebagai perlindungan sosial, tetapi juga instrumen intervensi gizi bagi kelompok rentan.

“Program bantuan pangan memiliki peran strategis sebagai instrumen perlindungan sosial sekaligus sarana intervensi gizi yang efektif. Karena itu, inovasi peningkatan kualitas bantuan, termasuk melalui beras fortifikasi, perlu terus dikembangkan,” ujar Sri dalam Workshop Capacity Building Pemanfaatan Beras Fortifikasi dalam Program Bantuan Pangan di Jakarta, Selasa (5/5/2026).


Baca Juga: Pekerja Formal Baru 40%, Pemerintah Dorong Industri dan Serapan Kerja

Bapanas memanfaatkan FSVA untuk mengidentifikasi wilayah rawan pangan hingga level terkecil. 

Pendekatan ini diharapkan membuat distribusi bantuan lebih presisi, terutama bagi kelompok berisiko stunting di daerah prioritas.

Sri menambahkan, penguatan kapasitas pemangku kepentingan menjadi kunci agar implementasi program dapat diperluas. 

Capacity building penting untuk meningkatkan pemahaman, kapasitas teknis, dan sinergi antar pihak dalam pemanfaatan beras fortifikasi pada skala lebih luas,” lanjutnya. 

Ia menekankan, keberhasilan program membutuhkan dukungan lintas sektor dari hulu ke hilir, mulai dari kebijakan, perencanaan, hingga implementasi di lapangan. 

“Kolaborasi lintas sektor mutlak diperlukan agar intervensi berjalan holistik, tidak parsial,” katanya.

Program beras fortifikasi sendiri telah masuk dalam agenda Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 sebagai bagian dari penguatan kualitas konsumsi pangan. 

Baca Juga: Mentan: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Tak Ada Kaitannya dengan Pemilu 2029

Sejak 2025, program rintisan telah menyasar keluarga berisiko stunting dengan tingkat kesejahteraan terendah di wilayah prioritas FSVA kabupaten/kota.

Senada, Ketua Nutrisi dan Fortifikasi Food Safety and Standards Authority of India (FSSAI), Sirimavo Nair, memaparkan India telah lebih dulu mengintegrasikan beras fortifikasi dalam berbagai program bantuan pangan nasional.

“Program ini dijalankan bertahap sejak 2019 dan mencapai cakupan nasional pada 2025 dengan dukungan lebih dari 21.000 unit penggilingan,” jelasnya.

Menurut Nair, implementasi di India ditopang regulasi kuat dan sistem pengawasan mutu digital FoRTrace yang memungkinkan verifikasi kualitas secara real time di seluruh rantai distribusi. 

Secara ilmiah, fortifikasi beras disebut mampu menurunkan prevalensi anemia hingga 20% dan meningkatkan kadar hemoglobin.

Sementara itu, Vice President Global Health Strategies Indonesia, Suchi Mahajan, menilai keberhasilan program juga ditentukan oleh penerimaan publik.

“Advokasi perlu dilakukan secara masif melalui berbagai media agar masyarakat memahami manfaat beras fortifikasi,” ujarnya.

Dengan pemetaan berbasis FSVA dan dukungan lintas sektor, pemerintah menargetkan intervensi pangan dan gizi dapat lebih tepat sasaran serta berkelanjutan.

Baca Juga: Ditjen Pajak: Aturan Teknis Pajak Transaksi Digital Luar Negeri Segera Terbit

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News