Bapanas Siapkan Subsidi Angkut untuk Stabilkan Harga Daging Ayam



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah menyiapkan langkah untuk menjaga stabilitas harga daging ayam ras di wilayah yang pasokannya terbatas. Badan Pangan Nasional (Bapanas) membuka opsi subsidi biaya angkut agar pasokan ayam dari daerah surplus dapat didistribusikan ke wilayah yang mengalami kekurangan.

Kebijakan tersebut disiapkan di tengah meningkatnya permintaan daging ayam ras yang turut berkontribusi terhadap inflasi pada September 2026.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, Hermawan, mengatakan peningkatan permintaan daging ayam ras salah satunya dipengaruhi kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah. Meski demikian, kenaikan harga ayam belum terjadi secara merata dan masih berada dalam batas wajar.


“Jadi begini, ini ada kebutuhan semakin banyak, mungkin dalam bulan-bulan terakhir terjadi kenaikan, tapi masih harga yang wajar, masih di batasnya, tidak secara keseluruhan. Di daerah pun masih banyak yang murah. Hanya tempat-tempat tertentu saja yang mungkin produsen ayamnya kurang,” kata Hermawan dalam keterangan resminya, Senin (5/10/2026).

Baca Juga: Peternak Ayam Broiler Tertekan, Harga Jual Masih di Bawah HPP

Menurut Hermawan, persoalan yang dihadapi wilayah non-sentra produksi terutama berkaitan dengan tingginya ongkos distribusi dari daerah produsen.

Karena itu, Bapanas mempertimbangkan pemberian subsidi biaya angkut untuk memastikan pasokan dari daerah yang mengalami surplus dapat menjangkau wilayah yang membutuhkan.

“Untuk angkutan distribusi, kita bisa subsidi dari Bapanas, supaya penyerapan produksi dari tempat produsen yang lebih, bisa menyebar ke seluruh daerah. Bapanas memastikan bahwa mana daerah yang kurang akan disuplai dari daerah-daerah yang produsen,” jelasnya.

Harga daging ayam mulai turun

Berdasarkan pemantauan Bapanas, harga daging ayam ras secara nasional per 2 Oktober 2026 tercatat rata-rata Rp40.961 per kilogram (kg). Angka tersebut turun 0,62% dibandingkan sepekan sebelumnya yang mencapai Rp41.218 per kg.

Jika dibandingkan dengan posisi sebulan sebelumnya sebesar Rp41.300 per kg, harga daging ayam ras juga telah turun 0,82%.

Meski harga nasional mulai menunjukkan penurunan, tekanan harga ayam sebelumnya sempat cukup besar. Pada April 2026, daging ayam ras mencatat deflasi sebesar 6,20% dan kembali mengalami deflasi 3,83% pada Mei 2026.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan indeks harga yang diterima petani unggas sempat menurun dari 138,19 pada Maret 2026 menjadi 127,02 pada Juli 2026. Setelah itu, indeks kembali menguat menjadi 132,43 pada Agustus dan 134,99 pada September.

Stok ayam diproyeksikan surplus

Dari sisi ketersediaan, Bapanas memperkirakan stok daging ayam ras hingga akhir 2026 masih berada di kisaran 1 juta ton.

Proyeksi tersebut berasal dari stok awal tahun sekitar 200.000 ton dan estimasi produksi dalam negeri sebesar 4,7 juta ton. Sementara itu, kebutuhan konsumsi nasional diperkirakan mencapai 3,9 juta ton.

Dengan proyeksi surplus tersebut, pemerintah melihat persoalan distribusi sebagai salah satu aspek yang perlu diperkuat, khususnya di daerah dengan tingkat produksi ayam yang rendah.

“Untuk daerah-daerah yang produksinya kecil, kemudian mengalami kenaikan harga, kita imbau supaya pemerintah daerah meminta kepada kami untuk subsidi masalah distribusinya. Mereka terkendala biasanya distribusinya mahal,” kata Hermawan.

Baca Juga: Kemenperin Siapkan Prioritas Pengembangan Mesin Dalam Negeri

Pemerintah tambah pasokan jagung pakan

Selain mengantisipasi persoalan distribusi, pemerintah juga memperkuat pengendalian biaya produksi peternak melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan.

Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menginstruksikan Perum Bulog untuk memperpanjang penyaluran SPHP jagung pakan. Pemerintah juga tengah memproses tambahan alokasi sebanyak 150.000 ton.

“Menambah dan memperpanjang SPHP. Nah itu Bulog, tanggung jawab saya, Bulog, perpanjang sepanjang-panjangnya. Selama peternak butuh, kasih. Titik. Mudah, jangan ada basa-basi. SPHP Bulog kita lanjutkan,” ujar Amran.

Hingga 2 Oktober 2026, realisasi penyaluran SPHP jagung pakan telah mencapai 172.100 ton atau 71,36% dari total target tahap pertama dan kedua sebesar 241.200 ton.

Penyaluran tersebut telah menjangkau peternak yang tersebar di 29 provinsi.

Melalui subsidi biaya angkut dan tambahan pasokan jagung pakan, pemerintah berupaya menjaga keseimbangan harga daging ayam dari sisi distribusi sekaligus menekan beban biaya produksi yang ditanggung peternak.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News