JAKARTA. Pelunasan utang PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mengundang tanya. Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) telah mengirimkan permintaan penjelasan ke pengelola BNBR. Sumber KONTAN di Bapepam-LK menyatakan, regulator telah mengirimkan pertanyaan secara tertulis mengenai kelanjutan penyelesaian utang yang sudah jatuh tempo sejak Januari 2012 kemarin. "Kami mempertanyakan seperti apa kesepakatan yang mereka buat dengan kreditur," tutur sumber KONTAN, Rabu (13/6). Pertanyaan tersebut muncul karena manajemen BNBR pada pertengahan bulan lalu menyatakan, tengah dalam negosiasi tahap akhir dengan kreditur. Pengelola BNBR juga menyatakan target penyelesaian adalah akhir Mei lalu.
Sumber KONTAN menegaskan, akan menagih jawaban yang jelas dari pengelola BNBR. "Kami akan menelaah jawaban yang mereka berikan. Kalau kami nilai tidak cukup, ya, kami akan memanggil mereka," jelas dia. Belum jelas strukturnya Manajemen BNBR mengakui, telah menerima pertanyaan dari Bapepam-LK. Namun, manajemen BNBR belum bersedia menjelaskan tentang mekanisme penyelesaian utang yang dirundingkan dengan para krediturnya. "Setelah menjawab ke Bapepam-LK saja ya," elak Eddy Soeparno, Direktur Keuangan BNBR. Seperti diketahui, BNBR memiliki kewajiban membayar surat utang, yang total nilainya lebih dari Rp 2 triliun. Utang tersebut terdiri dari dua jenis pinjaman. Pertama, utang jangka menengah MSN Tara Ltd and Piper Price & Company Ltd senilai Rp 857,43 miliar. Kedua, utang ke Interventures Capital Pte Ltd (ICPL) senilai Rp 1,26 triliun. Kedua surat utang itu sudah jatuh tempo pada 20 Januari 2012 kemarin.Selain dua utang itu, BNBR pun memiliki sisa pinjaman jangka pendek ke Ascention Ltd senilai Rp 96 miliar. Jatuh tempo utang ini pada Februari 2012. Eddy pernah menyatakan, BNBR akan membayar sebagian besar pinjaman dari MSN Tara dan ICPL. Dengan kata lain, BNBR tidak melunasi seluruh utangnya. Sekadar informasi, para pemegang obligasi itu terdiri dari beberapa kreditur. Sedangkan utang ke Ascention akan diselesaikan sesuai dengan kesepakatan prinsip yang tercapai dengan kreditur. Emiten saham Grup Bakrie itu sudah lama meluncurkan niat mengurangi utang-utangnya. Pada kuartal I tahun ini, BNBR menyatakan akan menekan utang sebanyak Rp 2 triliun. Per akhir 2011, BNBR mencatatkan utang senilai Rp 6 triliun. Sampai dengan 7 Maret 2012, BNBR berhasil mengurangi utang senilai Rp 600 miliar.BNBR juga masih berupaya melakukan restrukturisasi utang senilai US$ 437 juta. Sebagian dari utang itu, tepatnya US$ 243,03 juta, sejatinya diatasnamakan Long Haul. Utang itu memiliki jaminan berupa saham Bumi Plc.
Di saat harga saham Bumi Plc merosot, sang kreditur, yaitu Credit Suisse, meminta tambahan agunan senilai US$ 100 juta. Nah, proses penambahan agunan itu seharusnya tuntas tahun lalu. Namun, hingga kini BNBR belum memaparkan ke publik. Bisa jadi regulator mempertanyakan penyelesaian utang BNBR karena nilai kas emiten itu per 31 Desember 2011 hanya Rp 486,60 miliar. Angka tersebut jauh di bawah utang jangka pendeknya yang mencapai Rp 11,59 triliun di akhir tahun lalu. BNBR juga menanggung kewajiban jangka panjang senilai Rp 1,45 triliun. Di saat penyelesaian utang masih remang-remang, harga saham BNBR, Rabu (13/6), tidak bergerak dari Rp 50 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News