KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kawasan Transmigrasi Batam-Rempang-Galang (Barelang) di Kepulauan Riau berpotensi dikembangkan sebagai lokasi industri pusat data (data center). Langkah itu menjadi bagian dari upaya membuka aktivitas ekonomi baru di wilayah transmigrasi Anggota sekaligus Deputi Bidang Investasi Badan Pengusahaan (BP) Batam, Fary Djemy Francis, mencatat potensi investasi industri data center di Batam mencapai sekitar Rp 500 triliun. Namun, sebagian proyek masih dalam tahap negosiasi sehingga potensi tersebut belum sepenuhnya terealisasi.
Baca Juga: Percepatan Proyek dan Penurunan Biaya PLTS Butuh Reformasi Kebijakan Kelistrikan “Batam menjadi salah satu tujuan investasi strategis untuk pengembangan industri data center. BP Batam mencatat, terdapat 16 proyek data center dalam
pipeline investasi di Batam,” ujar Fary dalam keterangan tertulis, Rabu (14/10/2026). Dari jumlah tersebut, dua proyek telah beroperasi dan enam proyek lainnya masih dalam tahap negosiasi. BP Batam belum merinci status delapan proyek sisanya, termasuk nilai investasi masing-masing proyek. Investor dalam pipeline tersebut berasal dari sejumlah negara, antara lain China, Singapura, dan Indonesia. Besarnya potensi itu, kata Fary, menjadi peluang bagi Batam untuk memperkuat posisinya sebagai pusat industri digital sekaligus mendorong pertumbuhan industri manufaktur pendukung. Meski demikian, nilai potensi Rp 500 triliun tersebut mencakup seluruh
pipeline industri data center di Batam, bukan hanya di Kawasan Transmigrasi Barelang. Hingga kini, belum ada nilai investasi maupun target penyerapan tenaga kerja yang ditetapkan secara khusus untuk pengembangan data center di kawasan tersebut. Kesiapan utilitas menjadi tantangan utama dalam merealisasikan potensi itu. Industri data center membutuhkan pasokan listrik dan air yang andal untuk menunjang operasionalnya.
Baca Juga: PLTA Batang Toru Segera Beroperasi, Pasokan Listrik Sumatra Bertambah Fary menegaskan, BP Batam tidak hanya berfokus pada percepatan investasi, tetapi juga memastikan kesiapan infrastruktur dan utilitas, khususnya pasokan listrik dan air. “Kebutuhan kedua utilitas tersebut akan diperhitungkan secara cermat dan disiapkan dari sisi hulu agar mampu mendukung kebutuhan industri, tanpa mengganggu pasokan bagi masyarakat, salah satunya melalui teknologi SWRO,” ujarnya.
SWRO atau
seawater reverse osmosis merupakan teknologi pengolahan air laut menjadi air tawar. Fary berharap teknologi ini mampu membantu memenuhi kebutuhan industri tanpa menambah tekanan terhadap pasokan air bagi warga. Selain utilitas, kepastian perizinan, kesiapan lahan, konektivitas, dan ketersediaan tenaga kerja turut menentukan realisasi investasi. Dengan demikian, besarnya
pipeline data center di Batam belum otomatis mencerminkan investasi yang telah terealisasi, terutama di Kawasan Transmigrasi Barelang. Sementara itu, Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara sebelumnya membahas pengembangan kawasan transmigrasi di Rempang, Kecamatan Galang, Batam, Kepulauan Riau. Adapun pengembangan industri (data center) yang menjadi perhatian BP Batam antara lain berada di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News