Basarnas Maksimalkan Operasi Pencarian Lima Jurnalis di Selat Sunda



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) memperkuat operasi pencarian lima jurnalis yang hilang di perairan Selat Sunda, Banten, setelah kapal yang ditumpangi mengalami kondisi darurat di sekitar Gunung Anak Krakatau. Memasuki hari ketiga operasi, Basarnas mengerahkan seluruh potensi SAR dan memperkuat pencarian dengan sarana udara seperti drone.

Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengatakan, tim pencarian akan mengevaluasi pelaksanaan operasi selama dua hari sebelumnya untuk menyesuaikan pola pencarian dengan kondisi di lapangan.

“Hari ini saya juga akan menuju ke sana dan kita akan melihat secara langsung kegiatan atau pelaksanaan operasi yang dilaksanakan. Kita akan mencoba mengevaluasi dari dua hari yang kita laksanakan ini, kemudian kita akan memperkuat operasi SAR ini dengan penggunaan sarana udara, misalkan drone dan juga kita akan mengkolaborasikan atau mensinergikan dari seluruh kekuatan yang ada,” ujar Syafii saat ditemui di kegiatan ADExco 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (10/9/2026).


Baca Juga: Basarnas Bentuk Kampung Rescue untuk Percepat Respons Kedaruratan

Menurut Syafii, Basarnas masih berharap kelima jurnalis tersebut dapat ditemukan dalam kondisi selamat. Operasi pencarian dilakukan oleh tim dari kantor SAR Banten dan Lampung dengan melibatkan berbagai potensi SAR yang tersedia.

Kesulitan utama dalam pencarian adalah luasnya wilayah yang harus dipetakan. Basarnas juga tidak memperoleh informasi komunikasi terakhir secara lengkap dari rombongan tersebut. Kondisi itu membuat tim harus menentukan perkiraan lokasi berdasarkan waktu keberangkatan, waktu kehilangan kontak, serta kondisi angin, gelombang dan arus.

“Mulai dari rombongan meninggalkan lokasi, misalkan jam 14.00, loss contact terakhir kira-kira di 45 menit berikutnya, kita melihat bagaimana arah angin, bagaimana kecepatan angin, kita melihat arah gelombang, kecepatan gelombang, arah arus. Dari situlah kita memetakan sektor-sektor operasi yang kita laksanakan,” jelasnya.

Pada operasi sebelumnya, Basarnas membagi wilayah pencarian menjadi lima sektor yang mengarah ke wilayah Lampung. Untuk hari ketiga, pola operasi akan disesuaikan kembali berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan.

Baca Juga: Prabowo Kerahkan TNI AL untuk Cari Jurnalis Hilang Kontak Saat Meliput Anak Krakatau

Selain luasnya area pencarian, kondisi Gunung Anak Krakatau juga menjadi kendala. Basarnas tidak dapat memasuki wilayah gunung yang sedang mengalami erupsi karena masih terdapat kemungkinan letupan dan material vulkanik yang terbawa udara.

“Tidak mungkin kita masuk di wilayah gunung yang mengalami erupsi ini. Kondisi udara artinya letupan-letupan dari gunung ini kan masih terjadi, sehingga masih menciptakan vulkanik yang terbawa udara. Dan itu pasti tidak akan kita lewati. Baik itu dengan drone kita maupun dengan sarana udara kita,” katanya.

Basarnas menyatakan operasi hanya dilakukan dalam batas yang masih dapat ditoleransi dari sisi keselamatan. Kendati demikian, seluruh potensi SAR tetap dikerahkan untuk memperluas jangkauan pencarian.

Unsur yang terlibat dalam operasi tersebut antara lain kepolisian serta TNI dari unsur darat, laut dan udara. Sejumlah potensi SAR lainnya juga ikut membantu proses pencarian, termasuk beberapa jurnalis yang tergabung dalam operasi.

Syafii mengatakan, kondisi gelombang juga menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan tim di lapangan. Pada pagi hari, kondisi ombak disebut berada di kisaran 50 sentimeter hingga 1 meter. Sementara pada siang hari, ketinggian gelombang dapat meningkat hingga sekitar 1,5 meter dan maksimal 2 meter.

Basarnas juga menyoroti pentingnya keberadaan perangkat keselamatan darurat di kapal maupun yang dibawa secara personal. Menurut Syafii, perangkat seperti emergency position indicating radio beacon (EPIRB) atau personal locator beacon (PLB) dapat membantu tim menemukan posisi korban sehingga proses evakuasi dapat dilakukan lebih mudah.

Baca Juga: 6 Gunung Api: Anak Krakatau, Sinabung, Merbabu Erupsi Serentak, Ini Analisa Penyebab

“Andai saja mereka dilengkapi itu mungkin tentunya akan mempermudah kita untuk melaksanakan evakuasi,” ujarnya.

Syafii juga mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan ketentuan keselamatan ketika melakukan aktivitas di wilayah yang memiliki potensi bahaya. Ia menekankan pentingnya mengikuti informasi dan pembatasan wilayah yang telah ditetapkan pemerintah, terutama di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau.

Basarnas berharap operasi pencarian lima jurnalis tersebut dapat segera membuahkan hasil. Tim akan terus memaksimalkan seluruh potensi yang tersedia dengan mempertimbangkan kondisi cuaca, laut serta risiko aktivitas vulkanik di sekitar wilayah pencarian.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News