KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja operasional PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) terus menunjukkan tren perbaikan di tengah berbagai tantangan industri teknologi. Langkah perseroan serta dinamika regulasi pasar modal menjadi fokus utama para analis dalam memetakan prospek saham ini. Analis Deutsche Bank Peter Milliken menyoroti kinerja keuangan GOTO yang berhasil mempertahankan rentetan profitabilitas.
Laba bersih perseroan tercatat sebesar Rp 252 miliar pada kuartal II-2026, melanjutkan raihan positif dari kuartal sebelumnya.
Baca Juga: Morgan Stanley Borong Saham GOTO di Harga Rp 25, Nilai Transaksinya Rp 547 Miliar Perbaikan profitabilitas GOTO tercermin dari pencapaian EBITDA yang disesuaikan pada kuartal II-2026. "Fintech merupakan pendorong utama laba, namun
On-Demand Services (ODS) juga melakukan kerja keras yang menyebabkan EBITDA yang disesuaikan melonjak 137% menjadi Rp 1,010 miliar," kata Peter Milliken dalam risetnya, (30/7). EBITDA yang disesuaikan dari unit Fintech sendiri mencatatkan rekor baru sebesar Rp 481 miliar. Peningkatan ini terakselerasi oleh lonjakan volume transaksi yang berkembang pesat di dalam ekosistem perusahaan. Hal ini didorong oleh pertumbuhan transaksi hingga 91% YoY menjadi 2,4 miliar transaksi serta kenaikan penyaluran pinjaman sebesar 58% YoY mencapai Rp 11,0 triliun. Pendapatan bersih Fintech pun tumbuh 53% YoY seiring penetrasi kredit yang masih tergolong rendah. Di sisi ODS, pendapatan bersih meningkat 20% YoY meski GTV tumbuh terbatas sebesar 2%. Pertumbuhan tersebut didukung oleh ekspansi bisnis periklanan bernilai margin tinggi serta efisiensi biaya promosi. Penerapan strategi harga murah harian yang menggantikan promosi berbasis insentif berhasil mendorong margin profitabilitas segmen ini. Hasilnya, EBITDA yang disesuaikan dari segmen ODS terangkat hingga 41%. Meski demikian, GOTO merevisi proyeksi EBITDA yang disesuaikan dari segmen ODS untuk semester kedua sebesar Rp 300 miliar akibat kebijakan batas atas komisi kendaraan roda dua sebesar 8%.
Baca Juga: Indo Tambangraya (ITMG) Serap 42% Capex US$ 21 Juta Semester I, Ini Penggunaannya Potensi kehilangan pendapatan komisi tersebut dicoba ditekan melalui pengoptimalan tarif serta pengurangan beban biaya promosi. Untuk memitigasi dampak penyesuaian tarif tersebut, GOTO menaikkan target kontribusi dari segmen Fintech menjadi Rp 1,7 triliun–Rp 1,8 triliun. Langkah penyesuaian ini membuat total panduan EBITDA yang disesuaikan untuk 2026 tetap dipertahankan pada kisaran Rp 3,2 triliun–Rp 3,4 triliun. Selain dinamika operasional, pergerakan harga saham GOTO turut dipengaruhi oleh kebijakan regulasi bursa. Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana menghapus batas harga minimum Rp 50 di pasar reguler dan mengubahnya menjadi Rp 1 per saham. BEI memperkirakan perubahan ini dapat meningkatkan likuiditas serta efisiensi mekanisme pembentukan harga bagi pasar secara lebih luas. Saham GOTO sendiri tercatat telah tertahan di level harga terendah Rp 50 selama dua bulan terakhir di pasar reguler. Kebijakan ini diperkirakan memicu gejolak jangka pendek pada saham GOTO akibat potensi arus keluar dana pasif (
passive outflows). Pengeluaran saham GOTO dari indeks FTSE dan MSCI berpotensi menciptakan tekanan jual hingga 116 miliar saham atau sekitar 10% dari total saham beredar. Analis J.P. Morgan Ranjan Sharma menilai, penyesuaian teknis ini justru berpotensi menjadi titik balik pembentukan harga saham GOTO. "Meskipun demikian, kami memandang hal ini sebagai peristiwa pembersihan yang potensial untuk saham tersebut dari perspektif arus teknis," ujar Ranjan dalam risetnya, (20/8). Ranjan memperkirakan batas bawah harga saham GOTO secara fundamental berada di kisaran Rp 25 hingga Rp 30 per saham. Penopang utama dari level harga tersebut adalah program pembelian kembali (
buyback) saham senilai Rp 3,5 triliun yang dinilai sanggup menyerap seluruh potensi
passive outflow pada harga di bawah Rp 30. Selain itu, akumulasi nilai kas bersih sebesar Rp 13 per saham,
Net Present Value (NPV) biaya layanan e-commerce sebesar Rp 10 per saham, serta nilai pasar kepemilikan di Bank Jago sebesar Rp 3 per saham secara kumulatif membentuk nilai fundamental sebesar Rp 26 per saham. Angka perhitungan tersebut mengindikasikan bahwa bisnis Fintech dan ODS seolah diberikan secara cuma-cuma kepada investor pada tingkat harga tersebut. Prospek jangka panjang GOTO juga ditopang oleh posisi kas bersih yang kuat mencapai Rp 24 triliun atau setara 40% dari kapitalisasi pasarnya. Penggunaan teknologi kecerdasan buatan (
Artificial Intelligence/AI) yang diterapkan dalam lebih dari 50 program operasional turut mengoptimalkan efisiensi, salah satunya meningkatkan rasio click-through di GoFood. Rumor mengenai potensi konsolidasi bisnis dengan pemain regional juga menjadi nilai tambah opsionalitas bagi perseroan.
Melihat fundamental perusahaan di tengah dinamika harga saham, Peter dan Ranjan memberikan rekomendasi beragam untuk saham GOTO. Peter merekomendasikan buy dengan target harga Rp 85 per saham. Sementara itu, Ranjan merekomendasikan
overweight dengan target harga sebesar Rp 68 per saham.
Baca Juga: ITMG Masih Hitung Rencana Pembagian Dividen Interim, Cek Historinya Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News