KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja reksadana pasar uang PT Batavia Prosperindo Aset Management (BPAM) menunjukkan daya tahan di tengah volatilitas pasar saham dan obligasi sepanjang Oktober 2026. Sejumlah produk bahkan mampu mencatatkan imbal hasil di atas rata-rata industri. Berdasarkan data Infovesta 90 Index per 30 Oktober 2026, Indeks Reksadana Pasar Uang tumbuh 0,42% secara bulanan atau
month-on-month (MoM).
Secara
year-to-date (YTD), kategori ini juga menjadi yang berkinerja terbaik di industri reksadana dengan imbal hasil mencapai 3,59%.
Baca Juga: Porsi Pendanaan dari Institusi Luar Negeri Turun, Ini Penjelasan Adira Finance Salah satu produk yang mencatatkan kinerja lebih tinggi adalah Batavia Dana Kas Gebyar. Produk tersebut membukukan imbal hasil sebesar 8,16% secara YTD hingga akhir Oktober 2026. Direktur Batavia Prosperindo Asset Management Eri Kusnadi belum memberikan penjelasan spesifik mengenai komposisi portofolio yang menopang kinerja Batavia Dana Kas Gebyar tersebut. Namun, berdasarkan dokumen fund fact sheet per 30 Juni 2026, produk ini menempatkan 100% alokasi portofolionya pada instrumen pasar uang atau deposito berjangka. Strategi tersebut sejalan dengan tujuan investasi produk untuk memperoleh imbal hasil yang kompetitif dengan tetap menjaga likuiditas melalui investasi pada efek bersifat utang dengan sisa jatuh tempo kurang dari satu tahun. Di tengah dinamika pasar keuangan, Eri menilai pergerakan dana investor pada produk reksadana pasar uang masih relatif terkendali. Hingga menjelang akhir 2026 dan memasuki awal 2027, arus dana masuk atau
inflow investor juga masih berada dalam kondisi normal.
Baca Juga: Porsi Pendanaan Berbasis Valuta Asing Turun, Ini Penjelasan BFI Finance "Kalau
inflow kami lihat masih normal besarannya. Ada outflow sedikit, tetapi wajar," ujar Eri kepada Kontan.co.id, Rabu (4/11/2026). Menghadapi gejolak pasar keuangan domestik dan ketidakpastian global, BPAM memilih menerapkan pendekatan pengelolaan portofolio yang mengutamakan keamanan serta ketahanan dana investor. Eri menegaskan, dalam menentukan strategi alokasi portofolio reksadana pasar uang ke depan, BPAM akan memprioritaskan kualitas fundamental instrumen investasi dan kecukupan likuiditas sebelum mempertimbangkan potensi imbal hasil.
"Kami fokus di fundamental dulu dan likuiditas sebelum imbal hasil," ungkapnya. Menurut Eri, pendekatan tersebut diharapkan dapat menjaga ketersediaan likuiditas bagi investor sekaligus mempertahankan konsistensi kinerja reksadana pasar uang di tengah ketidakpastian pasar keuangan.
Baca Juga: Rupiah Melemah, CNAF Andalkan Strategi Hedging demi Amankan Pendanaan Valas Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News