Menjaga warisan budaya sekaligus mengembangkan bisnis bukan perkara mudah. Batik Harni berhasil masuk ke generasi kedua setelah dirintis Hani Zainoel dari awalnya usaha sederhana menjual dua lembar kain batik. Ike Harni Juniati, pemilik Batik Harni, mengatakan bisnis tersebut awalnya dibangun sang ibu, Hani Zainoel, dengan tujuan membantu perekonomian keluarga. Modal awalnya pun terbilang sederhana, yakni dua lembar kain batik yang dipinjamkan oleh keluarga. Dari langkah kecil itu, Batik Harni perlahan berkembang hingga mendapatkan tempat usaha di Sarinah. Perjalanan bisnisnya pun tidak selalu mulus. Salah satu tantangan terbesar terjadi saat kerusuhan 1998. Saat itu, seluruh barang dagangan dan peralatan kantor Batik Harni habis dijarah. Untungnya, satu pekan sebelum kerusuhan, Batik Harni baru saja mengirimkan pesanan ke luar negeri. Pengiriman tersebut kemudian menjadi penyelamat usaha. Pelemahan nilai tukar rupiah membuat nilai penerimaan dari transaksi ekspor meningkat signifikan ketika dikonversi ke rupiah. "Jadi ketika kurs berubah, selisihnya itu yang akhirnya menyelamatkan Batik Harni," ujar Ike.
Batik Harni, Bertahan Dua Generasi Berawal dari Dua Lembar Batik
Menjaga warisan budaya sekaligus mengembangkan bisnis bukan perkara mudah. Batik Harni berhasil masuk ke generasi kedua setelah dirintis Hani Zainoel dari awalnya usaha sederhana menjual dua lembar kain batik. Ike Harni Juniati, pemilik Batik Harni, mengatakan bisnis tersebut awalnya dibangun sang ibu, Hani Zainoel, dengan tujuan membantu perekonomian keluarga. Modal awalnya pun terbilang sederhana, yakni dua lembar kain batik yang dipinjamkan oleh keluarga. Dari langkah kecil itu, Batik Harni perlahan berkembang hingga mendapatkan tempat usaha di Sarinah. Perjalanan bisnisnya pun tidak selalu mulus. Salah satu tantangan terbesar terjadi saat kerusuhan 1998. Saat itu, seluruh barang dagangan dan peralatan kantor Batik Harni habis dijarah. Untungnya, satu pekan sebelum kerusuhan, Batik Harni baru saja mengirimkan pesanan ke luar negeri. Pengiriman tersebut kemudian menjadi penyelamat usaha. Pelemahan nilai tukar rupiah membuat nilai penerimaan dari transaksi ekspor meningkat signifikan ketika dikonversi ke rupiah. "Jadi ketika kurs berubah, selisihnya itu yang akhirnya menyelamatkan Batik Harni," ujar Ike.
TAG: