Bayang-bayang Stagflasi Menguat, Dampak Perang Timur Tengah Mulai Terasa



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Dampak perang di Timur Tengah yang telah berlangsung selama tujuh pekan mulai merambat ke denyut ekonomi global. Sejumlah indikator awal menunjukkan kombinasi yang tidak nyaman, yakni pertumbuhan yang melambat di tengah tekanan inflasi yang masih tinggi.

Dalam laporan Bloomberg (19/4), pelaku pasar menanti rilis terbaru indeks manajer pembelian (PMI) dari berbagai negara sebagai rapor awal kondisi April. Setelah pada bulan pertama konflik Iran tekanan mulai terlihat, kini pasar akan menguji apakah kondisi tersebut memburuk pada bulan kedua.

Berdasarkan proyeksi Bloomberg, mayoritas negara Eropa seperti Jerman, Prancis, kawasan Euro, dan Inggris berpotensi mencatat penurunan aktivitas bisnis. Sementara itu, ekonomi Amerika Serikat (AS) diperkirakan relatif stagnan tidak cukup kuat untuk mengimbangi tekanan global.


Situasi ini memunculkan kembali kekhawatiran lama terkait stagflasi. Kombinasi antara inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang tersendat ini bukan sekadar risiko teoretis. Kepala Ekonom Bisnis S&P Global, Chris Williamson secara terbuka mengingatkan potensi tersebut.

Ia menilai, indikator global pada Maret telah memberi sinyal awal bahwa tekanan harga dan pelemahan aktivitas ekonomi berjalan bersamaan— ebuah pola yang mengingatkan pada krisis ekonomi era 1970-an.

Peringatan serupa juga datang dari Dana Moneter Internasional (IMF). Dalam pertemuan para pejabat keuangan di Washington pekan lalu, IMF menyebut dunia menghadapi berbagai skenario, termasuk risiko mendekati resesi.

Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva menegaskan, bahwa dampak konflik tidak bisa dihapus dalam waktu singkat, bahkan jika ketegangan mereda. “Bahkan jika perang berakhir besok, akan butuh waktu cukup lama bagi pemulihan untuk mulai berjalan. Dampaknya sudah terlanjur terjadi,” ujarnya.

Baca Juga: Kerugian Minyak Global Capai US$50 Miliar Akibat Perang AS-Iran

Tahan diri

Di tengah tekanan tersebut, bank sentral global belum menunjukkan langkah agresif. Mereka cenderung menahan diri, sembari menunggu kejelasan arah ekonomi. Kepala ekonom Bank Sentral Eropa (ECB), Philip Lane menyebutkan, data survei seperti PMI akan menjadi pertimbangan penting dalam penentuan suku bunga ke depan.

“Kami akan memiliki rangkaian data survei yang sangat kaya. Namun para responden survei juga melihat dunia yang sama seperti kami penuh ketidakpastian,” kata Lane.

Ketidakpastian ini menjadi benang merah di berbagai kawasan. Di Amerika Serikat, lonjakan harga energi akibat perang diperkirakan mendorong kenaikan penjualan ritel secara nominal. Namun di balik itu, daya beli riil masyarakat justru tertekan karena pengeluaran tersedot untuk kebutuhan energi.

Sementara di Asia, tekanan inflasi impor mulai menjadi perhatian utama. Bank sentral, termasuk di Indonesia, diperkirakan memilih menahan suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah kenaikan harga energi global.

Di Eropa, tekanan serupa terlihat dari potensi kenaikan inflasi yang dipicu lonjakan harga energi. Inggris bahkan diproyeksikan mencatat inflasi lebih tinggi pada Maret, menambah beban bagi ekonomi yang sudah rapuh.

Di tengah gambaran suram ini, analis Bloomberg Economics, Jennifer Welch dan Adam Farrar menilai, ketegangan geopolitik belum akan mereda dalam waktu dekat.

“Meskipun kesepakatan tampaknya mulai terlihat antara AS dan Iran, kecil kemungkinan menghasilkan perdamaian yang penuh atau berkelanjutan. Ketegangan struktural masih akan bertahan,” tulis mereka.

Dengan kata lain, risiko terhadap ekonomi global belum akan hilang dalam waktu dekat. Kombinasi ketidakpastian geopolitik, tekanan energi, dan respons kebijakan yang hati-hati membuat prospek ekonomi dunia tetap rapuh, setidaknya untuk beberapa waktu ke depan.

Baca Juga: Global Market: Harga Minyak Anjlok, Wall Street Rekor, Harga US Treasury Melonjak

TAG: