Perusahaan jasa keuangan berbasis teknologi informasi atawa
financial technology (fintech) terus bermunculan. Tapi, perusahaan fintech pembayaran mendominasi. Data Asosiasi FinTech Indonesia (Aftech) per Maret 2017 lalu menyebutkan, jumlah perusahaan fintech pembayaran (
payment) mencapai 40% dari total 153 perusahaan fintech yang beroperasi di tanah air. "Mayoritas berumur kurang dari dua tahun," ungkap Niki Luhur, Ketua Umum Aftech. Perusahaan fintech pembayaran, menurut Niki, bisa melakukan pengembangan produk dari data-data pembayaran milik mereka. Misalnya, dengan
big data analytics yang dapat digunakan untuk menilai perilaku konsumen atau
creditworthiness.
Akhirnya, perusahaan fintech pembayaran menciptakan produk sekaligus jalur (
channel) baru. Misalnya, agen pembayaran tagihan. Menurut Edwin Hosan,
General Manager Business & IT DavestPay, perusahaan rintisan (
start-up) fintech pembayaran tagihan, peta persaingan fintech pembayaran tagihan di Indonesia saat ini sangat menarik, bukan sengit. "Karena kami bisa bersinergi dan membantu perusahaan lain dalam penyediaan produk," katanya. Yang jadi tantangan utama fintech pembayaran tagihan, adalah inovasi produk dan regulasi serta dukungan pemerintah. Edwin mengatakan, ketiga hal tersebut bisa membantu membangun dan mengembangkan ekosistem fintech. Nah, berikut profil sejumlah perusahaan fintech pembayaran yang menawarkan fitur agen pembayaran tagihan:
Start-up fintech asal Makassar yang berdiri 2009 lalu ini awalnya adalah perusahaan pengisian pulsa elektrik. Pada 2012, DavetsPay, di bawah bendera PT Hensel Davest Indonesia, mulai melebarkan sayap, dengan membangun sistem pembayaran yang terintegrasi secara
online. Lalu tahun 2014, mereka mengembangkan sistem pembayaran
online untuk produk
multi-biller. Sistem DavetsPay, Edwin menjelaskan, mengenal yang namanya agen (
merchant) dan pengguna perseorangan (
personal user).
Merchant adalah
personal user yang melakukan upgrade level berbayar sehingga bisa menikmati berbagai produk pembayaran tagihan secara
online dengan harga yang bersaing dan murah. Sedang
personal user ialah
user yang melakukan pendaftaran secara gratis namun harga yang mereka peroleh agak mahal dibandingkan
merchant. Baik
merchant maupun
personal user wajib melakukan deposit ke sistem DavetsPay, agar bisa melakukan pembayaran tagihan secara
online. Setiap transaksi pembayaran akan memotong deposit, lalu masuk ke sistem Davestpay dan diteruskan ke masing-masing
biller pembayaran. "Sampai saat ini kami telah bekerjasama dengan ratusan
biller pembayaran, seperti PLN, Telkom, dan PDAM," ujar Edwin. Agen memainkan peranan yang sangat penting untuk mengembangkan jaringan DavestPay. Saat ini, DavetsPay punya lebih dari 50.000 agen dan tersebar di seluruh Indonesia terutama Jawa dan Sulawesi. "Keunggulan kami dari di sisi harga yang murah dan lengkap," klaim dia. Hingga akhir Maret lalu, DavestPay sudah membukukan 12 juta transaksi per bulan. Hingga akhir tahun, mereka menargetkan 20 juta transaksi per bulan. DavestPay juga menyediakan Application Programming Interface (API) agar
start-up fintech lain bisa bersinergi sama mereka.
Espay menawarkan solusi pembayaran
e-commerce dengan konsep
business-to-consumer-to-business (B2C2B). Edy S. Prawirohardjo,
Chief Executive Officer (CEO) Espay, mengklaim, konsep ini hanya satu-satunya di Indonesia, guna menjawab kebutuhan pembayaran
e-commerce dari konsumen (customer) ke
merchant dan dari
merchant kepada rekan-rekan bisnisnya seperti pemasok serta kurir.
Start-up yang berdiri 2012 bernama PT Pembayaran Lintas Usaha Sukses ini memiliki fitur Electronic Invoice Presetment and Payment (EIPP). Fitur ini memungkinkan
merchant mengunggah tagihan (
upload invoice) ke suatu portal di internet. Pelanggan dari
merchant itu akan diberi tautan (
link) untuk bisa melakukan pembayaran tagihan.
Link ini akan mengarah ke portal kasir elektronik. Edy mencontohkan, produsen barang konsumsi (
consumer goods) memasok produk ke toko-toko kelontong. Dengan fitur EIPP, si produsen cukup mengunggah tagihan (
upload invoice) ke situs e-commerce yang mereka gandeng. Lalu, pemilik toko kelontong bisa membayar tagihan melalui laman itu Jadi, "Produsen tersebut punya portal untuk mitranya bayar tagihan," katanya. Espay juga mempunyai agen pembayaran yang melayani pengisian (
top-up) uang elektronik (e-money). Mereka tidak hanya menggandeng toko ritel modern, Kantor Pos, dan Pegadaian sebagai agen, juga penjual gas Elpiji, misalnya. Jumlah agen Espay lebih dari 70.000 agen yang juga tersebar di luar Jawa. "Bedanya dengan pemain lain, kami bisa
multiple bank, bukan hanya kerjasama dengan satu bank," ucap Edy. Total transaksi pembayaran lewat Espay saat ini mencapai 500.000 transaksi sebulan.
Anak usaha Telkom ini menyediakan layanan agregator pembayaran tagihan (
bill payment aggregator). Salah satu portofolio bisnis PT Finnet Indonesia ini menitikberatkan pada penyediaan layanan
aggregator payment collection bagi para
biller dan
merchant, serta mengintegrasikan multikanal pembayaran (
payment channel) untuk biller.
Niam Dzikri, Direktur Utama Finnet Indonesia, menuturkan, hingga akhir 2016, perusahaannya sudah berkongsi dengan dengan 96
biller, 28.134
channel bank, nonbank, dan koperasi, 11 perusahaan remitansi, serta 336
merchant. "Kami merupakan agregator yang menyediakan layanan pembayaran tagihan bagi perusahaan yang menerbitkan sistem tagihan (
billing system)," tuturnya. Layanan itu tersedia melalui aplikasi Delima Poin. Aplikasi ini terintegrasi ke seluruh multikanal pembayaran di Indonesia, baik melalui gerai ritel modern,
payment point, bank, maupun kantor pos. Konsep agregator maupun
switching akan memudahkan proses administrasi untuk terhubung ke seluruh
payment channel itu dengan satu koneksi (
single connection). Saban bulan, rata-rata transaksi pembayaran transaksi di Finnet mencapai 56 juta transaksi. Bayar tagihan gampang. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News