Bayer Dorong Manufaktur Kesehatan Berkelanjutan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bayer terus memperkuat jejak bisnisnya di Indonesia melalui investasi dan inovasi berkelanjutan. Salah satunya dilakukan dengan menggelontorkan investasi sebesar Rp 99 miliar untuk pengembangan lini produksi, termasuk fasilitas manufaktur dan kegiatan riset dan pengembangan (R&D).

Investasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas manufaktur lokal sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu basis produksi produk kesehatan Bayer. Tak hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik, fasilitas ini juga diarahkan untuk mendukung kebutuhan pasar global.

Salah satu produk yang diproduksi melalui fasilitas tersebut adalah multiple micronutrient supplements (MMS). Kapasitas produksinya mencapai hingga 1,2 miliar tablet MMS per tahun, baik dalam kemasan botol maupun blister.


MMS merupakan suplemen prenatal berstandar United Nations International Multiple Micronutrient Antenatal Preparation (UNIMMAP). Produk ini mengandung 15 vitamin dan mineral esensial yang dibutuhkan ibu selama masa kehamilan. 

“Melalui inovasi dan investasi berkelanjutan, Bayer memperkokoh posisi Indonesia sebagai pusat manufaktur produk kesehatan yang esensial bagi kebutuhan domestik maupun pasar global,” kata Priscilla Silvan Praritza, Head of Bayer Supply Center Healthcare Cimanggis dalam keterangannya, Jumat (21/8/2026),

Baca Juga: Portofolio Semakin Kuat, Bayer Siap Genjot Pertumbuhan Kinerja

Baru-baru ini, Bayer Indonesia menerima kunjungan Reem Alabali Radovan, Menteri Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan, bersama Dante Saksono Harbuwono, Wakil Menteri Kesehatan RI, dan Ralf Beste, Duta Besar Jerman untuk Indonesia, di fasilitas manufaktur healthcare Bayer di Cimanggis.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari agenda delegasi Jerman untuk memperkuat kemitraan strategis dengan Indonesia, khususnya dalam transisi energi dan kerja sama sektor swasta. Kunjungan ini menyoroti kemitraan Indonesia-Jerman dalam transisi energi dan penguatan industri kesehatan.

Fasilitas Cimanggis memasok pasar domestik dan mengekspor ke lebih dari 42 negara. Delegasi juga meninjau panel surya berkapasitas 2.054 kWp yang memenuhi sekitar 43% kebutuhan energi fasilitas serta mengurangi emisi hingga 2.073 ton CO₂ per tahun, serta fasilitas produksi MMS.

Radovan mengatakan Jerman dan Indonesia memiliki komitmen kuat terhadap pembangunan berkelanjutan dan inklusif. Menurutnya, fasilitas Bayer di Cimanggis menunjukkan bahwa investasi berkelanjutan dan inovasi dapat memberikan manfaat luas, mulai dari pengembangan energi terbarukan dan penguatan industri lokal hingga peningkatan kapasitas manufaktur untuk mendukung kesehatan ibu dan anak.

Baca Juga: Ketidakpastian Global Masih Tinggi, Kalbe Farma (KLBF) Menahan Target Kinerja 2026

“Upaya ini menciptakan dampak berkelanjutan bagi masyarakat sekaligus mendukung pembangunan jangka panjang. Melalui kebijakan pembangunan, kami membangun jembatan dengan negara mitra dan merintis kemitraan baru bersama, termasuk dengan melibatkan perusahaan-perusahaan Jerman secara sistematis,” ujarnya.

Sementara itu, Dante mengatakan kehadiran Bayer di Indonesia menjadi contoh kemitraan jangka panjang antara pemerintah dan industri dalam mendukung prioritas kesehatan nasional.

Menurut Dante, Kementerian Kesehatan menargetkan program nasional dapat menjangkau 4,9 juta ibu hamil setiap tahun. Untuk mencapai target tersebut, diperlukan pasokan MMS  yang berkualitas, andal, dan konsisten.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News