KONTAN.CO.ID - JAKARTA.
Emiten perjalanan wisata, PT Bayu Buana Tbk (
BAYU) melihat prospek
bisnis di sepanjang tahun 2026 masih akan diwarnai oleh beragam tantangan.
Manajemen cukup berhati-hati dalam menetapkan target kinerja tahun ini mengingat mengingat potensi tekanan yang dihadapi industri ini cukup signifikan.
Direktur Utama Bayu Buana,
Agustinus Pake Seko, mengatakan tantangan yang dihadapi perusahaan antara lain dinamika geopolitik global, fluktuasi nilai tukar, hingga perubahan perilaku konsumen.
Baca Juga: Insentif Pajak Daerah Dinilai Pengusaha Jadi Kunci Percepatan Investasi SPKLU Kondisi tersebut turut berdampak pada penurunan
demand pasar, baik dari sisi konsumen pemerintah maupun
leasure. Sehingga pertumbuhan pada industri diperkirakan akan menghadapi tekanan yang cukup signifikan.
“Mengenai proyeksi untuk tahun ini, kami seperti yang tadi sampaikan di awal, mau lebih berhati-hati. Memang situasi geopolitik global, kemudian nilai tukar terutama, kemudian kenaikan avtur, itu benar-benar berdampak kepada market untuk melakukan perjalanan,” ungkap Agustinus, dalam Paparan Publik, pada Kamis (7/5/2026).
Lebih jauh dia memaparkan, tekanan itu terutama berasal dari meningkatnya ketidakpastian ekonomi global yang berdampak pada biaya perjalanan, termasuk harga tiket dan akomodasi yang cenderung lebih tidak stabil.
Baca Juga: Biaya Layanan E-Commerce Naik, idEA: Industri Banyak Ditopang Promo & Gratis Ongkir Fluktuasi nilai tukar juga mempengaruhi daya beli wisatawan, khususnya untuk perjalanan internasional.
Sejumlah laporan industri menunjukkan bahwa dalam kondisi ketidakpastian ekonomi, konsumen cenderung lebih berhati-hati dalam membelanjakan dana untuk perjalanan, dengan memprioritaskan kebutuhan esensial serta menunda atau mengurangi perjalanan yang bersifat tidak penting.
Selain itu, tren juga menunjukkan adanya pergeseran perilaku ke arah
value-driven travel, di mana pelanggan menjadi lebih selektif, mempertimbangkan harga, fleksibilitas, serta nilai pengalaman yang diperoleh.
Perjalanan bisnis pun cenderung lebih terukur, dengan perusahaan mengoptimalkan anggaran perjalanan dan hanya melakukan perjalanan yang memiliki urgensi tinggi.
Sebagai strategi untuk mempertahankan bisnis di sepanjang tahun, Bayu Buana terus berupaya menjaga kesiapan operasional perusahaan secara menyeluruh, baik untuk segmen bisnis
corporate travel, premium leisure, hingga layanan berbasis pengalaman.
Baca Juga: Pengusaha Logistik Siap Beralih ke Kendaraan Listrik, Asal Ekosistem Didukung Di sisi produk, Bayu Buana akan meluncurkan paket perjalanan tematik, tur terkurasi dengan harga premium, program-program insentif perjalanan korporasi, dan perjalanan
experiential yang
customized. Tak hanya itu, sebagai upaya menjaga pertumbuhan kinerja berkelanjutan, BAYU berencana melakukan diversifikasi bisnis ke sektor
hospitality. Sebagai langkah awal dari ekspansi ini, pihaknya kini tengah dalam proses akuisisi sebuah hotel bintang 4 di Kota Makassar. Proses akuisisi tersebut ditargetkan bakal rampung pada tahun depan.
“Nah begitu kami masuk ke bisnis ini, kami sudah punya konsepnya. Konsep yang kami miliki itu lebih ke
boutique hotel. Jadi tidak bisa dengan gampang dibandingkan dengan properti lain. Biasanya properti yang masuk ke
commodity trap ini karena tidak ada perbedaan antara satu properti dengan properti yang lain,” tambahnya.
Sepanjang kuartal I-2026, BAYU membukukan pendapatan sebesar Rp 554,72 miliar, lebih rendah 13,94%. Sedangkan untuk perolehan laba bersih tercatat Rp 15,50 miliar, menurun 32,85% dibandingkan Rp 23,23 miliar di tahun sebelumnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News