BBCA & BBRI Cetak Rekor Terendah dalam 5 Tahun: Dijual Asing Rp 42 Triliun, Ada Apa?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) terus melemah bahkan mencapai titik rekor terlemah-nya dalam lima tahun terakhir. Meski begitu, Korea Invesment dan Sekuritas Indonesia (KISI) tetap optimistis harganya akan bangkit.

Dalam perdagangan sepekan terakhir, saham BBCA dan BBRI terus dilanda oleh aksi jual bersih alias net sell dari investor asing. Hengkangnya kepemilikan asing ini membuat harga BBCA dan BBRI jatuh semakin dalam.

Hingga Jumat (5/6/2026), saham BBCA tercatat di level Rp 5.075 atau anjlok 10,96% dalam sepekan. Jika ditarik lebih jauh, BBCA ambles 37,15% dari awal tahun alias year-to-date (ytd).


Sedangkan, BBRI ditutup di posisi Rp 2.740 per saham atau turun 7,12% dalam sepekan. Harga BBRI juga sudah melemah 32,84% secara tahun berjalan di 2026.

Baca Juga: Fintech Solusiku Dipanggil OJK: Ini Dugaan Pelanggarannya

Koreksi harga saham BBCA dan BBRI juga dibarengi dengan net sell investor asing. Jika dihitung sepanjang tahun ini, jumlah net sell BBCA telah mencapai Rp 32,44 triliun, sedangkan net sell BBRI juga tak kalah besar di Rp 9,68 triliun.

Analis KISI Sekuritas Muhammad Wafi menjelaskan, saham BBCA dan BBRI merupakan dua saham utama yang penggerak perdagangan bursa Indonesia.

Kepemilikan asing atas dua saham ini terbilang lebih besar dibandingkan saham-saham Indonesia lainnya. Sebab itu, ketika ada tekanan jual dari investor asing, maka harga dari BBCA dan BBRI akan turun lebih dulu dibanding saham-saham lain.

Menurutnya, hal tersebutlah yang membuat saham BBCA dan BBRI bisa sampai rekor harga terendah dalam lima tahun. 

"BBCA dan BBRI dijual asing bukan karena fundamental memburuk. Dua-duanya adalah saham paling likuid di IHSG sehingga jadi instrumen exit pertama kalau asing cash out dari Indonesia," kata Wafi saat dihubungi, Jumat (5/6/2026).

Adapun Wafi menilai kinerja BBCA dan BBRI masih terbukti solid dengan laba bersih yang terus meningkat. Untuk diketahui, hingga April 2026, BBCA mencatat laba bersih Rp 20,81 triliun dan laba bersih BBRI sebesar Rp 15,89 triliun.

Menurutnya, aksi jual investor asing atas kedua saham ini lebih disebabkan oleh faktor ketidakpastian ekonomi Indonesia, ketimbang fundamental bank.

 
BBRI Chart by TradingView

Ia menyebut valuasi kedua saham ini sudah di level yang rendah. BBRI misalnya saat ini memiliki Price to Book Value (PBV) 1,32x dan Price Earnings Ratio (PER) 7,64x.

"Kondisi BBCA dan BBRI saat ini bukan value trap, tapi forced selling yang bikin diskon ekstrem pada bisnis yang fundamentalnya tidak berubah," kata Wafi.

Dengan begitu, Wafi menganggap BBCA dan BBRI sedang didiskon oleh pasar karena faktor eksternal dan arus dana, bukan karena fundamental perusahaan memburuk.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News