BBCA Berhasil Bertahan Kala Saham Bank Terkapar, Simak Rekomendasi Analis



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Mayoritas saham sektor perbankan tak berhasil mencapai zona hijau pada akhir perdagangan Senin (18/5/2026). Kombinasi sentimen global dan domestik menjadi penyebabnya. 

Pada akhir perdagangan hari ini, saham bank besar yang berhasil parkir di zona hijau hanya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dengan catatan kenaikan harga  0,41% dibanding perdagangan sebelumnya menjadi Rp 6.125. 

Sementara lainnya kompak loyo. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatatkan koreksi terdalam sebesar 1,92% menjadi Rp 3.060. Menyusul saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun harga 1,81% menjadi Rp 3.800 dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terkoreksi 1,67% menjadi Rp 4.130. 


Baca Juga: Bank BJB Gandeng Pusri, Perkuat Kerja Sama Layanan Perbankan dan Pembiayaan

Saham Himbara lainnya juga loyo. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) turun harga 5,22% ke level Rp 1.270, sementara PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) melemah 7,10% menjadi Rp 1.700. 

Memang di second liner, hanya PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) yang berhasil menguat, yakni sebesar 0,90% menjadi Rp 1.690. Sementara PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) terkoreksi 3,41% menjadi Rp 4.250, PT Bank Permata Tbk (BNLI) turun 4,79% menjadi Rp 3.180, dan PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) susut 2,62% jadi Rp 1.300.

Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya menjelaskan, pada dasarnya pelemahan saham perbankan hari ini dipicu sejumlah faktor. Pasar masih mencermati potensi foreign outflow setelah rebalancing MSCI dan FTSE, ditambah tekanan rupiah yang kembali melemah mendekati Rp17.600/USD.

“Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran bahwa BI akan mempertahankan stance suku bunga tinggi atau cenderung lebih hawkish untuk menjaga stabilitas rupiah. Di sisi lain, kenaikan harga minyak dan aksi risk-off investor asing juga turut menekan sektor perbankan,” jelas Andrey kepada Kontan, Senin (18/5/2026). 

Pekan ini, Andrey melihat sentimen utama yang bakal memengaruhi saham bank di antaranya rebalancing MSCI dan FTSE, keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) terkait suku bunga dan stabilitas rupiah, serta pergerakan nilai tukar dan imbal hasil US Treasury. 

Di samping itu, arah harga minyak dunia di tengah tensi geopolitik dan arus dana asing di pasar saham domestik juga perlu menjadi perhatian. Andrey bilang sektor perbankan berpotensi mengalami teknikal rebound jika tekanan rupiah dan arus dana asing mereda.

“Mengingat valuasinya kini mulai berada di area yang relatif menarik secara historis,” jelas Andrey. 

Di tengah volatilitas pasar dan tekanan arus dana asing, Andrey bilang investor umumnya lebih memilih bank dengan fundamental kuat, CASA solid, likuiditas baik, dan dividend yield menarik. Maka dari itu, ia melihat saham big banks bakal cenderung lebih defensif dibanding lainnya. 

Saham bank pilihan Andrey jatuh kepada BMRI, BBRI, dan BBCA. BBRI disebut menarik karena valuasinya sudah cukup terkoreksi sehingga berpotensi rebound, sementara BMRI menawarkan kombinasi valuasi menarik dan yield tinggi. 

Sementara BBCA dijadikan pilihan utama untuk quality play saat market volatile. Namun begitu, Andrey juga melihat bank second liner dan bank digital masih berpeluang rebound secara trading, tetapi volatilitasnya diperkirakan tetap tinggi sehingga lebih sesuai untuk investor dengan profil risiko agresif.

Baca Juga: Laba BCA Tumbuh 3% yoy Pada April 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News