BBM B50 Resmi Diluncurkan, Ini Perbedaaan dengan Biodiesel B35 & B40



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah resmi meluncurkan bahan bakar minyak (BBM) jenis biodiesel 50% atau B50 di KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Kamis (9/7). BBM B50 adalah pengganti biodiesel B35 dan B40. Apa beda B35, B40 dan B50?

Dalam peluncuran tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memaparkan hasil uji coba yang telah dilakukan. Lompatan implementasi bauran energi nabati ini diklaim menunjukkan performa yang memuaskan pada berbagai jenis kendaraan.

Bahlil mengakui, peningkatan kadar minyak sawit dalam biodiesel ini bukan perkara mudah karena biasanya naik bertahap 5% hingga 10%. 


Menurutnya, pengembangan teknologi ramah lingkungan ini umumnya membutuhkan waktu evaluasi yang cukup lama sebelum bisa diterapkan secara massal. Namun, percepatan program ini terus digenjot untuk mengejar target ketahanan energi yang dipatok oleh pemerintah pusat.

"Awalnya memang B50 ini jujur kami katakan bahwa ini bukan pekerjaan yang mudah. Karena biasanya tahapannya itu Bapak Presiden naik 5%, maksimal 10%. Itu pun 10% itu dia 3 tahun baru bisa kita melakukan uji coba. Tapi perintah Bapak Presiden waktu itu, Bapak Presiden mengatakan bahwa bagaimana caranya pun B50 harus kita bisa luncurkan di 2026," ujarnya dikutip dalam siaran Sekretariat Presiden, Kamis (9/7/2026).

Baca Juga: Rencana Penambahan Layer Cukai Rokok Perlu Dikaji Lebih Matang

Bahlil mengungkapkan, implementasi kebijakan ini bukan sekadar urusan teknis mencampur bahan bakar cair berbasis kelapa sawit saja. Kebijakan mandiri energi ini menjadi simbol penting bagi ketahanan nasional di tengah ketidakpastian pasokan global.

"Pak, ini test case-nya enam bulan, jadi kereta api, mobil, mobil Mercedes pun dites Pak, bis. Tidak hanya Toyota, Mercedes pun oke. Jadi ini dari (mobil) Asia sampai Eropa semua kita bikin. Kapal-kapal semuanya kita tes," lanjutnya.

Bahlil menuturkan, hasil uji coba selama setengah tahun menunjukkan bahwa bahan bakar baru ini aman digunakan untuk berbagai mesin. 

Dia bilang, indikator efisiensi kendaraan tercatat membaik dan komponen penyaringan bahan bakar memiliki masa pakai yang jauh lebih lama. Hal ini menepis kekhawatiran pelaku industri transportasi mengenai potensi kerusakan mesin akibat peningkatan kadar minyak nabati.

"Dan Alhamdulillah, hasil test-nya ternyata kualitas B50 jauh lebih baik daripada B40. Apa dasarnya kalau B40 itu filternya itu diganti pada ukuran 10.000 sampai dengan 20.000 kilometer (km). Nah untuk B50 Pak, ada yang 40.000 Km belum diganti filternya," tandasnya. 

Tonton: Prabowo Resmikan BBM Baru B50 Hari Ini Berapa Harganya dan Apa Dampaknya bagi Masyarakat 

BBM B50

Dilansir dari Kompas.com, B50 merupakan bahan bakar biodiesel yang terdiri dari campuran 50% Fatty Acid Methyl Ester (FAME) berbahan baku minyak sawit dan 50% solar berbasis fosil. Persentase kandungan biodiesel yang lebih tinggi dibandingkan program sebelumnya membuat B50 menjadi kebijakan mandatori biodiesel paling ambisius yang pernah diterapkan Indonesia.

Pemerintah menargetkan implementasi B50 dapat mengurangi bahkan menghentikan impor solar, sekaligus meningkatkan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) dari sumber daya domestik.

B50 adalah bahan bakar diesel yang memadukan minyak solar dengan biodiesel berbasis minyak sawit. Biodiesel tersebut diproduksi melalui proses pengolahan minyak sawit menjadi Fatty Acid Methyl Ester (FAME).

Program ini merupakan kelanjutan dari kebijakan mandatori biodiesel yang telah dijalankan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari B20, B30, B35 hingga B40.

Perbedaan utama setiap program terletak pada besarnya porsi biodiesel yang dicampurkan ke dalam solar.

Perbandingannya sebagai berikut:

  • B35: 35% FAME dan 65% solar.
  • B40: 40% FAME dan 60% solar.
  • B50: 50% FAME dan 50% solar.
Semakin tinggi kandungan FAME, semakin besar pula porsi energi terbarukan yang digunakan dalam setiap liter bahan bakar diesel.

Kendaraan Apa Saja yang Menggunakan B50?

Program B50 ditujukan untuk seluruh kendaraan maupun mesin yang menggunakan bahan bakar diesel. Beberapa sektor yang menjadi sasaran implementasi antara lain:

  • Truk logistik dan angkutan barang.
  • Bus dan kendaraan transportasi berbasis diesel.
  • Alat berat sektor pertambangan.
  • Mesin pertanian.
  • Kendaraan taktis.
  • Kapal dan sektor pelayaran tertentu.
  • Generator atau genset diesel.
  • Lokomotif kereta api berbahan bakar diesel.
Kendaraan diesel menjadi fokus utama karena memiliki kebutuhan torsi besar serta digunakan untuk aktivitas operasional dengan beban kerja tinggi dan perjalanan jarak jauh.

Hasil Uji Coba B50 Sebelum Berlaku Nasional

Sebelum diterapkan secara nasional, pemerintah telah melakukan pengujian B50 di berbagai sektor.

Pengujian dilakukan pada kendaraan otomotif, alat berat pertambangan, mesin pertanian, pembangkit listrik berbasis genset, perkapalan hingga perkeretaapian.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyatakan hasil pengujian menunjukkan B50 mampu memenuhi berbagai parameter teknis yang dipersyaratkan.

Beberapa indikator yang dinyatakan memenuhi standar meliputi kandungan air, stabilitas oksidasi serta kadar FAME dalam bahan bakar.

Salah satu perhatian khusus pemerintah adalah pengujian pada sektor perkeretaapian karena memiliki karakteristik operasional berbeda dengan kendaraan jalan raya serta konsumsi solar yang relatif besar.

Pemerintah juga memastikan distribusi B50 nantinya tidak hanya dilakukan oleh Pertamina, tetapi juga seluruh badan usaha penyedia bahan bakar minyak sesuai regulasi yang ditetapkan.

Konsumsi BBM Sedikit Naik, Masih Dalam Batas Wajar

Hasil pengujian pada alat berat menunjukkan penggunaan B50 memang meningkatkan konsumsi bahan bakar sekitar 3,12% dibandingkan B40.

Namun kenaikan tersebut masih dinilai dalam batas yang dapat diterima dan tidak memberikan dampak signifikan terhadap produktivitas operasional.

Dengan hasil tersebut, pemerintah menilai B50 telah siap diterapkan secara luas sebagai bahan bakar diesel nasional.

Implementasi B50 menjadi salah satu strategi utama pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi, mengurangi impor solar, sekaligus meningkatkan pemanfaatan minyak sawit sebagai bahan baku energi terbarukan di Indonesia.  

Barito Renewables Tuntaskan Buyback 6,7 Juta Saham
© 2026 Konten oleh Kontan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News