BBM Dibatasi, Krisis Energi India Memburuk



KONTAN.CO.ID - MUMBAI. Krisis energi global mulai menekan distribusi bahan bakar di India. Di tengah gangguan pasokan akibat konflik Timur Tengah, Reliance Industries Ltd. mengambil langkah tak biasa dengan membatasi pembelian BBM di jaringan SPBU-nya.

Sumber Bloomberg (10/4) menyebut, perusahaan membatasi pembelian hingga 1.000 rupee per kunjungan di SPBU yang dioperasikan bersama BP Plc. Kebijakan ini setara sekitar US$ 11 dan mulai diterapkan di lapangan meski belum diumumkan secara resmi.

Langkah ini mencerminkan tekanan pasokan yang kian nyata. Operator SPBU disebut mulai menerapkan pembatasan untuk meredam panic buying dan mencegah kehabisan stok di tengah lonjakan permintaan.


Reliance sendiri membantah adanya instruksi resmi pembatasan. Namun, perusahaan mengakui kemungkinan adanya kebijakan yang bersifat lokal di beberapa titik distribusi.

Situasi ini tak lepas dari terganggunya jalur energi global di Selat Hormuz. Jalur vital tersebut sempat hampir lumpuh selama beberapa pekan, menghambat pengiriman minyak mentah dan gas alam dunia. Meski gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran telah tercapai, risiko gangguan masih tinggi.

Sebagai negara importir besar , lebih dari 90% kebutuhan minyaknya bergantung pada impor India menjadi salah satu yang paling rentan terhadap gejolak ini.

Baca Juga: Reliance India Pertimbangkan Beli Minyak Venezuela Jika Diizinkan Amerika

Sinyal krisis

Meski hanya menguasai sekitar 2% dari total lebih dari 100.000 SPBU di India, langkah Reliance menjadi sinyal awal perubahan strategi pelaku industri, dari sekadar menaikkan harga menjadi mengatur volume distribusi.

Menariknya, perusahaan pelat merah seperti Indian Oil Corp., Bharat Petroleum Corp., dan Hindustan Petroleum Corp. belum mengumumkan kebijakan serupa. Namun di lapangan, pembatasan pembelian dilaporkan mulai terjadi secara sporadis.

Sementara itu, Nayara Energy sudah lebih dulu menaikkan harga BBM untuk menekan kerugian dan mengendalikan konsumsi. Perusahaan yang sebagian dimiliki Rosneft PJSC ini memilih jalur penyesuaian harga ketimbang pembatasan volume.

Tekanan finansial di sektor hilir juga tak ringan. Pemerintah India mengungkap, peritel saat ini merugi hingga 24,40 rupee per liter bensin dan 104,99 rupee per liter solar. Artinya, tanpa penyesuaian harga atau distribusi, tekanan margin akan semakin dalam.

Di pasar global, harga minyak masih bergejolak. Kenaikan harga minyak mentah Brent berlanjut setelah Arab Saudi melaporkan penurunan kapasitas produksi akibat serangan terhadap infrastruktur energi.

Kondisi ini menunjukkan satu hal: krisis belum usai. Bahkan, langkah pembatasan distribusi oleh Reliance bisa menjadi preseden bagi pelaku lain jika tekanan pasokan dan lonjakan permintaan terus berlanjut.

Baca Juga: Reliance Hentikan Pembelian, Impor Minyak Rusia ke India Anjlok di Januari 2026

TAG: