BBM mau naik, BCA belum turunkan bunga kredit



JAKARTA. Bank Central Asia (BCA) belum memastikan akan menurunkan bunga kredit jika pemerintah jadi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. BCA memilih menunggu perkembangan tingkat inflasi sebelum mengambil kebijakan terkait bunga kredit.

Menurut Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA, pihaknya sebetulnya sudah menurunkan tingkat bunga kredit yang tertinggi  sejak awal bulan November. “Tapi kalau nasabah yang  bunganya sudah lebih rendah dari bank lain, belum kita turunkan,” kata Jahja pada KONTAN, Rabu (12/11).

Jahja menegaskan BCA belum bisa memutuskan apakah menurunkan atau tidak tingkat bunga kredit secara keseluruhan jika pemerintah jadi menaikkan BBM bersubsidi akhir tahun ini. BCA hendak memastikan seberapa besar dampak kenaikan inflasi yang terjadi.


“Kalau dampaknya hanya inflasi naik 2% - 3%, rasanya belum perlu melakukan perubahan bunga,” pungkas Jahja.

Sebagaimana diketahui, pemerintahan Jokowi-JK bermaksud menaikkan harga BBM bersubsidi. Kebijakan ini diprediksi akan meningkatkan inflasi yang dapat melemahkan daya beli masyarakat.

Dikhawatirkan ini akan melembahkan juga daya beli debitur bank yang dapat mengurangi kemampuan bayar angsuran cicilan kredit. Ujungnya resiko meningkatnya rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) dikhawatirkan menimpa perbankan.

Berdasarkan data website resmi BCA per 31 Oktober 2014, suku bunga dasar kredit (SBDK) terdiri dari kredit korporasi 10,50% dan kredit retail 11,75%. Sedangkan kredit konsumsi KPR 10,50% dan kredit konsumsi non KPR sebesar 9,71%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Hendra Gunawan