BCA Income Index Ungkap Tren Pendapatan 500.000 Perusahaan Menurun, Sinyal Ekonomi?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) memantau perkembangan aktivitas ekonomi melalui big data sekitar 500.000 perusahaan untuk membaca tren pendapatan dan kondisi dunia usaha. 

Hasil pemantauan tersebut menunjukkan BCA Income Index memiliki kecenderungan menurun.

Kepala Ekonom BCA David E. Sumual mengatakan, indeks tersebut disusun dengan menggabungkan sejumlah indikator, mulai dari produk domestik bruto (PDB) nominal, penggajian (payroll) perusahaan-perusahaan tercatat di bursa, indeks keyakinan konsumen, hingga penerimaan.


Baca Juga: Siantar Top (STTP) Bidik Pertumbuhan Double Digit hingga Akhir 2026, Ini Strateginya

Selain itu, BCA memantau mutasi kredit dan pergerakan dana perusahaan untuk melihat perkembangan aktivitas ekonomi.

"Perusahaan-perusahaan yang dalam big data BCA, kita ada sekitar 500 ribu perusahaan. Ini juga kita bisa track down mutasi kreditnya, pergerakan dananya seperti apa. Nah ini kita bisa bikin indeks yang kita sebut BCA Income Index, dan memang trennya juga kecenderungannya menurun," ujar David dalam acara Business Outlook 2027, Senin (19/10/2026).

Menurut David, kecenderungan pelemahan tersebut juga terlihat dalam pengamatannya terhadap aktivitas ekonomi di sejumlah daerah, termasuk Semarang, Jawa Timur, dan Surabaya. Dia menyoroti sejumlah sektor usaha, seperti elektronik, yang menunjukkan tren melemah.

David menilai kondisi tersebut berkaitan dengan persoalan struktural perekonomian Indonesia, terutama dari sisi daya beli masyarakat dan kondisi kelas menengah.

"Memang kita ada persoalan yang cukup struktural terutama dari sisi daya beli yang ada kaitannya juga dengan posisi kelas menengah kita," katanya.

Dalam paparannya, David turut menyoroti struktur ketenagakerjaan dan investasi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pekerja sektor informal mencapai 87,7 juta orang atau 56,6% dari total yang ditampilkan.

Sementara itu, pekerja sektor formal tercatat 59,9 juta orang atau 38,7%, sedangkan pengangguran mencapai 7,3 juta orang atau 4,7%.

Baca Juga: HGBT Tak Optimal, Industri Masih Kekurangan Pasokan Gas

David juga menyoroti investasi yang semakin terkonsentrasi pada industri padat modal dibandingkan industri padat karya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News