KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memastikan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit di tengah berbagai tantangan ekonomi dan dinamika global yang berpotensi memengaruhi kualitas aset perbankan. Executive Vice President (EVP) Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, pertumbuhan kredit perbankan pada dasarnya akan sejalan dengan perkembangan kondisi perekonomian. Menurutnya, BCA saat ini tetap fokus pada fundamental bisnis dan menjaga kualitas pertumbuhan kredit melalui penerapan manajemen risiko yang disiplin.
Baca Juga: Penyaluran KUR BRI Capai Rp 84,36 Triliun per Mei 2026 “Pada prinsipnya, pertumbuhan kredit akan sejalan dengan kondisi perekonomian. BCA berfokus pada fundamental bisnis perseroan serta tetap mengambil langkah yang prudent dalam menghadapi dinamika saat ini,” ujar Hera kepada Kontan.co.id, beberapa waktu lalu. Hingga Maret 2026, total kredit yang disalurkan BCA mencapai Rp 994 triliun. Penyaluran kredit tersebut dilakukan ke berbagai segmen dan sektor usaha dengan tetap mempertimbangkan kualitas debitur dan kemampuan adaptasi terhadap perubahan kondisi ekonomi maupun kebijakan. Hera menjelaskan, BCA secara konsisten melakukan pemantauan terhadap risiko kredit, termasuk risiko konsentrasi portofolio pada sektor maupun debitur tertentu. BCA juga terus menjaga komunikasi dan koordinasi dengan debitur yang bisnisnya berpotensi terdampak perubahan kondisi ekonomi. Selain itu, perseroan rutin melakukan evaluasi terhadap prospek berbagai sektor industri untuk menentukan strategi pembiayaan yang sesuai dengan profil risiko masing-masing sektor. “BCA melakukan monitoring risiko konsentrasi kredit, termasuk penggunaan limit kredit dan kualitas portofolionya, serta melakukan evaluasi sektor industri berdasarkan prospek usaha dan tingkat risiko,” katanya. Untuk menjaga kualitas aset, BCA juga mengandalkan sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) guna mendeteksi potensi penurunan kualitas debitur sejak awal.
Melalui sistem tersebut, bank dapat mengambil langkah mitigasi lebih cepat sehingga risiko kredit bermasalah dapat ditekan. Selain itu, BCA secara rutin melakukan stress test guna mengukur ketahanan portofolio kredit terhadap berbagai skenario risiko ekonomi maupun bisnis. Dari sisi pencadangan, BCA menilai posisi cadangan kerugian kredit masih berada pada level yang solid. Hingga kuartal I-2026, rasio pencadangan loan at risk (LAR) tercatat sebesar 69,7%.
Sementara itu, rasio pencadangan terhadap kredit bermasalah atau NPL
coverage mencapai 174,6%. “Pencadangan NPL dan LAR berada pada level yang memadai untuk menghadapi ketidakpastian kondisi ekonomi dan bisnis debitur,” ujar Hera. Dengan kualitas aset yang tetap terjaga dan pencadangan yang kuat, BCA optimistis mampu menjaga pertumbuhan kredit yang sehat sekaligus mempertahankan profil risiko yang terkendali di tengah ketidakpastian ekonomi global. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News