BCA: Reformasi Tata Kelola Berjalan, Investor Masih Wait and See



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Santoso menilai reformasi tata kelola di pasar keuangan Indonesia terus berjalan, meskipun respons investor masih cenderung menahan diri di tengah ketidakpastian global.

Santoso menyebut, dari sisi perbankan, praktik tata kelola sebenarnya telah lama diterapkan dengan baik. Sementara itu, pembenahan di sektor pasar keuangan yang lebih luas, termasuk pasar modal, masih terus berlangsung.

Pun, ia melihat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) cukup proaktif dalam melakukan perbaikan, khususnya dalam memperkuat tata kelola dan perlindungan investor. Apalagi, menyusul evaluasi dari lembaga global terkait termasuk MSCI. 


Baca Juga: CNAF Catat Penyaluran Pembiayaan Baru Rp 1,24 Triliun per Februari 2026

“OJK sudah banyak berbenah. Kita appreciate upaya tersebut, tinggal bagaimana respons dari market, terutama investor asing,” ujar Santoso saat ditemui di Jakarta, Rabu (25/3/2026). 

Meski demikian, Santoso mengungkapkan bahwa aliran investasi, khususnya dari investor global, masih cenderung tertahan. Hal ini seiring dengan meningkatnya ketidakpastian akibat konflik geopolitik yang masih berlangsung.

Menurutnya, pelaku pasar saat ini masih berada dalam fase wait and see, sembari mengamati arah perkembangan situasi global, termasuk perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran. 

“Ini masih awal tahun, dan kondisi global juga baru berkembang. Jadi semua masih wait and see, melakukan assessment dan mitigasi,” jelasnya.

Ia menambahkan, ketidakpastian terkait durasi konflik menjadi faktor utama yang membuat investor dan pelaku industri bersikap lebih konservatif dalam mengambil keputusan investasi.

Dalam kondisi tersebut, perusahaan maupun investor umumnya menyiapkan berbagai skenario untuk menjaga ketahanan portofolio.

“Industri pasti berpikir konservatif. Mereka siapkan plan A, plan B, dan plan C untuk menjaga portofolio,” imbuh Santoso. 

Baca Juga: Begini Pandangan Direktur BCA soal Outlook Negatif Pemeringkat Global

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News