BCA Ungkap Tren Investasi Nasabah, Obligasi dan Pasar Uang Paling Diminati



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah dinamika pasar keuangan yang masih penuh tantangan, nasabah PT Bank Central Asia Tbk (BCA) belum menunjukkan perubahan besar dalam strategi investasinya. Instrumen berpendapatan tetap dan pasar uang masih menjadi pilihan utama karena sesuai dengan karakter nasabah BCA yang cenderung konservatif.

Executive Vice President Wealth Management BCA Indrawan B. mengatakan, tekanan yang terjadi di pasar, khususnya pada aset saham, memang berdampak terhadap kinerja investasi berbasis ekuitas. Namun, kondisi tersebut belum menunjukkan adanya perubahan komposisi portofolio secara signifikan.

"Memang tidak bisa dibantahkan dengan kondisi seperti ini, apalagi kemarin saham turun. Kalau kita bicara reksa dana yang equity sudah pasti merah semua. Jadi memang ada, sebenarnya sih bukan pergeseran ya, karena memang dari awal DNA-nya nasabah BCA itu memang lebih konservatif," ujar Indrawan dalam konferensi pers BCA Wealth Summit 2026 di Jakarta, Rabu (9/9).


Menurut dia, sejak awal BCA memiliki basis nasabah yang kuat pada instrumen bonds atau obligasi. Sementara itu, pada produk reksa dana, preferensi nasabah juga lebih banyak mengarah ke instrumen pasar uang.

"Jadi dari awal itu kita memang sangat strong di bonds, di obligasi, kemudian kalau kita bicara reksa dana juga kita sangat strong di money market," katanya.

Baca Juga: Dana Kelolaan Wealth Management BCA Tembus Rp 339 Triliun, Tumbuh 16% Per Juni 2026

Dengan karakter nasabah yang konservatif tersebut, pertumbuhan investasi nasabah BCA saat ini lebih banyak tercermin pada instrumen obligasi dan pasar uang. Sementara itu, perpindahan dana dari aset berisiko seperti saham ke instrumen yang lebih defensif belum terlalu terlihat.

Pasalnya, eksposur nasabah BCA terhadap instrumen berbasis ekuitas sejak awal relatif terbatas.

"Kalau lihat pergeserannya mungkin tidak terlalu kelihatan karena memang belum banyak yang di equity. Jadi kondisi sekarang ini sesuai dengan profil nasabah kita yang konservatif, jadi memang tumbuhnya lebih banyak di bonds dan money market," jelas Indrawan.

DPK dan AUM BCA Sama-Sama Tumbuh

Indrawan menambahkan, perkembangan bisnis wealth management BCA tidak serta-merta mengurangi dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun perseroan. Sebaliknya, DPK dan aset under management (AUM) justru sama-sama mencatat pertumbuhan.

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa BCA dapat menjalankan fungsi sebagai bank transaksi sekaligus menyediakan kebutuhan investasi bagi nasabah.

"Pada saat kita meluncurkan wealth management di awal-awal, tentu saja banyak teman-teman yang bilang, waduh ini kalau ada wealth management jangan-jangan dana pihak ketiga kita malah nyungsep, malah enggak naik. Ternyata fakta menunjukkan bahwa dua-duanya naik," tutur Indrawan.

Baca Juga: BCA Wealth Summit 2026 Bahas Strategi Jaga Kekayaan di Tengah Gejolak Global

Per Juni 2026, DPK BCA tercatat sekitar Rp1.284 triliun. Sementara itu, AUM bisnis wealth management BCA telah mencapai Rp339 triliun.

Indrawan menilai pencapaian tersebut menunjukkan kemampuan BCA dalam memenuhi dua kebutuhan utama nasabah, yakni transaksi perbankan dan investasi.

"Ini adalah pencapaian yang luar biasa, kita bisa tetap melayani nasabah untuk transaksi mereka, tapi kita juga bisa melayani nasabah untuk kebutuhan investasi mereka," katanya.

BCA Perkuat Peran sebagai Trusted Advisor

Ke depan, BCA akan terus memperkuat perannya sebagai trusted advisor bagi nasabah. Perseroan tidak hanya berorientasi pada pencapaian angka pertumbuhan, tetapi juga berupaya menjaga kepercayaan nasabah dalam menentukan pilihan investasi.

"Angka akan menjadi hasil. Kita enggak pernah memberikan target harus seperti apa," ujarnya.

Untuk memperluas akses investasi, BCA juga menyediakan berbagai kanal yang dapat digunakan oleh nasabah dari beragam segmen. Nasabah segmen mass market dan upper mass dapat melakukan investasi melalui myBCA, sedangkan nasabah segmen atas mendapatkan akses melalui kanal layanan wealth management.

Dengan jumlah nasabah yang mencapai sekitar 34 juta, BCA melihat ruang pertumbuhan bisnis investasi masih terbuka lebar.

Baca Juga: RoI Industri Dana Pensiun Naik Jadi 0,95% per Juli 2026, Ini Pemicunya

Perseroan juga menyediakan produk investasi dengan nilai yang relatif terjangkau. Bahkan, nasabah dapat mulai berinvestasi dengan dana mulai dari Rp10.000.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya BCA memperluas akses investasi sehingga tidak hanya dapat dimanfaatkan oleh nasabah dengan dana besar.

BCA Sediakan Beragam Pilihan Investasi

Dalam kondisi pasar yang dinamis, BCA menilai keputusan investasi pada akhirnya tetap harus disesuaikan dengan profil risiko dan preferensi masing-masing nasabah.

Nasabah dapat memilih instrumen yang lebih defensif ketika kondisi pasar mendorong peningkatan minat terhadap aset safe haven. Di sisi lain, instrumen dengan tingkat risiko lebih tinggi tetap tersedia bagi nasabah yang memiliki profil risiko yang sesuai.

"Yang pasti BCA menyediakan alternatif dan instrumen investasi apa yang dibutuhkan. Termasuk kalau nasabah pun hanya ingin menyimpan dana di BCA juga semuanya ada," kata Indrawan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News