Bea Ekspor Diproyeksi Jadi Beban Tambahan Emiten Batubara, Cek Rekomendasi Analis



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah akan menerapkan kebijakan bea keluar ekspor batubara tahun 2026. Kebijakan ini diproyeksi menjadi beban tambahan bagi emiten sektor batubara.

Inav Haria Chandra, Analis Sinarmas Sekuritas memperkirakan sektor batubara Indonesia akan menghadapi risiko kebijakan tambahan menyusul persetujuan resmi Komisi XI DPR terhadap rencana pemerintah untuk memberlakukan kembali bea ekspor batubara.

Usulan bea tersebut masih dalam pembahasan antar kementerian, dengan rincian akhir mengenai struktur dan tingkat pemicu masih tertunda. 


Baca Juga: Proyek Danantara Bakal Jadi Ancaman Bagi Emiten Poultry, Simak Rekomendasi Analis

“Yang penting, para pejabat telah mengisyaratkan bahwa bea tersebut hanya akan diaktifkan selama periode harga batubara yang tinggi. Sehingga membatasi dampak negatif jangka pendek tetapi memperkenalkan variabel yang dapat membatasi potensi kenaikan harga di masa mendatang,” jelas Inav dalam risetnya pada 7 Januari 2026. 

Di sisi lain, Inav memandang rencana pemerintah untuk meluncurkan mandat biodiesel B50 pada semester II – 2026 sebagai beban biaya struktural.

Meskipun kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi impor diesel, kelompok industri telah menyoroti kekurangan operasional, termasuk kehilangan daya sebesar 10% – 20% dan peningkatan biaya pemeliharaan peralatan, berdasarkan uji lapangan awal. 

“Karena perusahaan pertambangan tidak tercakup oleh subsidi bahan bakar publik, biaya-biaya ini diperkirakan akan langsung berdampak pada laba bersih,” ucap Inav.

Baca Juga: Pelemahan Daya Beli Tekan Kinerja Emiten Otomotif, Simak Rekomendasi Analis

Lebih lanjut Inav menyampaikan bahwa saham batubara Indonesia mencatatkan kenaikan moderat pada tahun 2025, mengungguli indeks EIDO dan tolok ukur batubara global, terutama pada semester II – 2025. 

Kinerja ini terutama didorong oleh perusahaan tambang yang terdiversifikasi dengan eksposur terhadap logam dasar, yang membantu mengimbangi pelemahan harga batubara termal.

Sebaliknya, perusahaan tambang batubara murni menunjukkan pengembalian yang rendah, mengikuti tren harga batubara.