Bea Masuk LPG 0% Jadi Sentimen Positif, Dampaknya ke Emiten Petrokimia Terbatas



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebijakan pemerintah memangkas tarif bea masuk impor LPG (propana dan butana) dari 5% menjadi 0% selama enam bulan dinilai memberikan sentimen positif bagi industri petrokimia. Namun, dampaknya terhadap kinerja emiten sektor ini diperkirakan masih terbatas.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi mengatakan, kebijakan tersebut memang dapat menekan biaya produksi, khususnya bagi perusahaan yang memiliki eksposur tinggi terhadap LPG sebagai bahan baku maupun fuel.

“Dampaknya cenderung positif, tetapi terbatas. Penurunan tarif bea masuk dari 5% menjadi 0% memang akan mengurangi biaya impor LPG, khususnya propana dan butana,” ujar Imam kepada Kontan, Jumat (31/7/2026).


Baca Juga: Sampoerna Jaga Kepemimpinan Pasar Semester I 2026 Meski Segmen Padat Karya SKT Turun

Meski demikian, ia menilai besarnya penghematan akan berbeda pada masing-masing emiten, tergantung pada komposisi bahan baku yang digunakan.

“Secara industri, pengaruhnya kemungkinan tidak terlalu besar karena biaya bahan baku petrokimia masih sangat dipengaruhi oleh harga energi global, terutama nafta, LPG, dan minyak mentah,” jelasnya.

Selain itu, volatilitas harga energi akibat konflik geopolitik di Timur Tengah dinilai masih menjadi faktor yang lebih dominan dibandingkan insentif tersebut.

Dari sisi profitabilitas, Imam menyebut insentif ini berpotensi memperbaiki margin laba, meski belum signifikan dalam jangka pendek.

“Jika harga produk tetap stabil sementara biaya impor LPG turun, maka margin memang bisa sedikit membaik. Namun apabila harga minyak dan LPG global kembali meningkat atau permintaan petrokimia masih lemah, maka manfaat dari insentif tersebut dapat tereduksi,” katanya.

Dengan masa berlaku kebijakan yang hanya enam bulan, dampaknya terhadap pergerakan saham sektor petrokimia juga dinilai terbatas.

“Dalam jangka pendek, kebijakan ini berpotensi memberikan sentimen positif, terutama karena menunjukkan adanya dukungan pemerintah terhadap industri petrokimia di tengah ketidakpastian global. Namun, pengaruhnya terhadap harga saham kemungkinan bersifat relatif terbatas,” tambahnya.

Menurutnya, investor saat ini lebih mencermati faktor lain seperti tren harga minyak dan nafta global, tingkat utilisasi pabrik, serta kinerja keuangan emiten yang tengah dirilis untuk periode kuartal II-2026.

Terkait rekomendasi, Imam menjagokan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebagai saham pilihan di sektor petrokimia.

“Kinerja pendapatan TPIA pada Semester I-2026 tumbuh sangat kuat sebesar 84% YoY, terutama didorong oleh akselerasi bisnis energi setelah akuisisi,” ungkapnya.

Meski laba bersih tercatat turun, hal tersebut lebih disebabkan oleh faktor non-berulang pada tahun sebelumnya.

Ia menambahkan, kebijakan pembebasan bea masuk LPG dapat menjadi katalis jangka pendek bagi TPIA, khususnya pada segmen kimia yang masih mencatatkan kerugian.

“PMK ini berpotensi menurunkan biaya bahan baku impor secara langsung, terutama di tengah tekanan harga nafta dan risiko gangguan pasokan akibat geopolitik,” jelasnya.

Ke depan, industri petrokimia juga berpotensi mendapat sentimen tambahan dari dinamika global, termasuk peluang meredanya ketegangan geopolitik yang dapat menekan harga energi.

Untuk strategi perdagangan, Imam merekomendasikan buy saham TPIA di kisaran Rp2.100-Rp2.170 per saham, dengan target harga Rp2.500 dan stop loss di bawah Rp2.000 per saham.

Dengan berbagai faktor tersebut, investor disarankan tetap mencermati dinamika harga energi global serta perkembangan permintaan petrokimia sebelum mengambil keputusan investasi.

Baca Juga: Industri FMCG Hadapi Tekanan Daya Beli, Produk Premium & Saset Jadi Penopang

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News