KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan harga minyak dunia dan lonjakan biaya bahan bakar minyak (BBM) terus membayangi efisiensi operasional sektor pertambangan di dalam negeri. Perkumpulan Tenaga Ahli Alat Berat Indonesia (PERTAABI) menilai ketergantungan industri tambang terhadap BBM masih sangat tinggi akibat dominasi armada berbasis mesin pembakaran dalam. Departement Head of Long-term Research & Regulation PERTAABI, Widhi Setya menyatakan, mayoritas kegiatan operasional tambang masih ditopang alat berat konvensional.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak, Harga Pertamax Bisa Tembus ke Rp 20.000 Kondisi ini membuat fleksibilitas biaya operasional sangat rentan terhadap fluktuasi harga BBM, sehingga mendorong pelaku usaha untuk mulai berfokus pada langkah-langkah efisiensi energi secara ketat. "Pada saat ini industri tambang memang sangat bergantung sekali terhadap konsumsi feul. Kita kasih tahu saat ini mayoritas pertambangan masih menggunakan alat berat yang basisnya adalah ICE (Internal Combustion Engine). ICE itu sangat membutuhkan fuel consumption atau fuel untuk membakar engine agar beroperasi di pperasional pertambangan," ujarnya dalam Kompas Professional Mining dan Castrol, di JIExpo Kemayoran, Jumat (11/9/2026). Kendati kesadaran perusahaan tambang terhadap efisiensi energi telah meningkat, Widhi menyoroti masih lemahnya konsistensi dalam eksekusi di lapangan. Menurutnya, keberhasilan efisiensi BBM tidak hanya bergantung pada regulasi internal perusahaan, melainkan pada tingkat kedisiplinan serta kematangan implementasi di operasional harian. "Kalau saya lihat dari perspektif kami sebagai ahli alat berat di Indonesia, tentunya pada saat ini mungkin banyak perusahaan sudah aware terhadap efisiensi Bahan bakar yang digunakan. Namun yang menjadi pertanyaan adalah tingkat kedisiplinan dan Maturity level dalam menjalankan implementasi dari efisiensi penggunaan fuel itu sendiri," ungkapnya. Guna mengatasi persoalan biaya BBM tersebut, Widhi mendorong perubahan pola pikir pelaku usaha agar tidak sekadar melihat BBM sebagai komponen biaya semata. Perusahaan diminta mentransformasi pengelolaan BBM menjadi keunggulan bersaing yang berkelanjutan, termasuk dalam menghitung ketepatan rasio konsumsi BBM terhadap volume produksi tambang. "Perlu adanya
shifting paradigma, ada sebuah pergeseran cara pikir menurut saya bagaimana menghemat fuel tapi harus berubah menjadi bagaimana fuel itu bisa menjadi salah satu sumber untuk menciptakan
sustainability competitive advantage. Kita selalu berpikir satu liternya itu berapa ton produksi batubara yang bisa kita keluarkan dari perut bumi," terangnya.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik, Ini Dampaknya Terhadap Operasional Tambang dan Ekonomi RI Lebih lanjut, Widhi membeberkan, terdapat tiga variabel yang memengaruhi tingkat konsumsi bahan bakar pada alat berat pertambangan. Di antaranya, kondisi mesin, perilaku operator saat mengemudi, serta kondisi lingkungan jalan tambang. "Ketika tiga hal ini dikombinasikan dengan sangat bagus itu akan bisa meningkatkan penggunaan fuel secara se-efisien mungkin," pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News