Beban Biaya Berpotensi Menyusut, Saham ANTM, INCO, AMMN, dan TINS Masih Prospektif



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Beban biaya emiten pertambangan logam diperkirakan mulai menyusut pada paruh kedua 2026 seiring normalisasi pasokan energi global. Kondisi ini diyakini menjadi katalis positif bagi kinerja emiten tambang, meski tingginya harga sulfur masih menjadi tantangan yang perlu diwaspadai.

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, mengatakan tekanan biaya akibat kenaikan harga minyak dan sulfur diperkirakan berangsur berkurang sejalan dengan pulihnya pasokan minyak dunia dan peningkatan produksi OPEC+.

"Tekanan biaya akibat kenaikan harga minyak dan sulfur diperkirakan mulai mereda pada semester II-2026 seiring normalisasi pasokan energi global dan peningkatan produksi OPEC+," ujar Azis kepada Kontan, Jumat (10/7/2026).


Baca Juga: Emiten Tambang Logam Masih Prospektif pada Semester II-2026, Ini Saham Pilihan Analis

Kendati demikian, Equity Research Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey, mencermati harga sulfur diperkirakan tetap tinggi. 

Selat Hormuz menangani hampir separuh perdagangan sulfur global melalui jalur laut. Di sisi lain, China mulai membatasi ekspor asam sulfat sejak Mei sementara permintaan sulfur di Indonesia terus meningkat seiring bertambahnya proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) yang juga bersaing dengan kebutuhan industri pupuk.

"Kami memperkirakan tekanan biaya akibat tingginya harga sulfur masih akan bertahan sepaniang kuartal III-2026 dan baru mereda secara bertahap setelahnya," jelas Andhika dalan riset 8 Juli 2026.

Menurut Azis, dampak penurunan biaya energi tidak akan dirasakan sama oleh seluruh emiten tambang logam. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dinilai relatif lebih sensitif terhadap perubahan biaya energi karena karakteristik operasionalnya.

Sementara itu, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dinilai lebih terlindungi berkat diversifikasi bisnis yang dimiliki. Adapun kinerja PT Timah Tbk (TINS) lebih banyak dipengaruhi oleh pergerakan harga timah di pasar global.

Azis menilai selama harga komoditas utama tetap berada pada level yang kuat, tekanan terhadap margin keuntungan emiten tambang logam masih dapat diimbangi.

Azis juga melihat sejumlah katalis positif masih akan menopang prospek sektor pertambangan logam hingga akhir tahun. Di antaranya harga emas yang bertahan tinggi, permintaan tembaga yang tetap solid seiring perkembangan transisi energi dan pembangunan pusat data, potensi pemulihan harga nikel dan timah, serta berlanjutnya program hilirisasi mineral di Indonesia.

Namun demikian, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko yang berpotensi memengaruhi fundamental emiten. Mulai dari pelemahan harga komoditas global, kenaikan kembali biaya energi, perubahan regulasi pertambangan, keterlambatan proyek ekspansi, hingga fluktuasi nilai tukar rupiah.

Dari prospek kinerja keuangan, Andhika menyebut momentum laba jangka pendek akan berbeda dengan prospek semester II-2O26.

Andhika memperkirakan pertumbuhan laba pada kuartal II-2026 masih terkonsentrasi pada beberapa emiten. Berdasarkan proyeksi laba kuartal II-2026, urutan emiten yang paling menarik adalah AMMN, INCO, ANTM, lalu TINS. Namun, ketika cakupan analisis diperluas hingga semester II-2026, preferensi Audrey berubah menjadi ANTM, TINS, AMMN, kemudian INCO.

Saat ini laba bersih TINS telah mencapai sekitar 77% dari proyeksi laba sepanjang 2026, sedangkan ANTM telah mencapai sekitar 66%. Capaian tersebut memberikan ruang yang lebih besar apabila terjadi normalisasi kinerja pada semester II-2026.

Sebaliknya, AMMN dan INCO masih memerlukan eksekusi operasional yang konsisten agar mampu memenuhi target laba tahunan.

Dari sisi rekomendasi, Azis memberikan rekomendasi buy untuk saham INCO dengan target harga Rp 6.300 per saham.

Ada pun Andhika memberikan rekomendasi untuk buy saham AMMN, ANTM, INCO dan TINS dengan masing-masing target harga Rp 6.000, Rp 4.800, Rp 8.000, dan Rp 4.500 per saham.

Baca Juga: Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Saham untuk Perdagangan Senin (13/7)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News