Beban pokok mengalahkan pendapatan KRAS



JAKARTA. Rapor PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) masih merah. Sepanjang tahun lalu, produsen baja pelat merah ini menderita kerugian senilai US$ 320 juta atau Rp 4,16 triliun (kurs Rp 13.000 per dollar AS).

Jumlah tersebut meningkat 118% dibandingkan kerugian KRAS pada tahun 2014, yang senilai US$ 147 juta. Penyebab kerugian adalah membengkaknya beban KRAS.

Mengacu laporan keuangan yang dipublikasikan Jumat (11/3), beban pokok pendapatan KRAS melampaui pendapatan bersih, yakni US$ 1,36 miliar. Memang dibandingkan tahun lalu, beban pokok tersebut menurun 25,68%.


Tapi, persentase penurunan beban pokok pendapatan lebih rendah dibandingkan penurunan pendapatan. Komponen beban pokok pendapatan antara lain beban pokok produksi baja dan beban non manufaktur.

Tahun lalu, KRAS menderita kerugian kotor senilai US$ 36,43 juta. Padahal tahun 2014, KRAS masih mengantongi laba kotor sekitar US$ 41,33 juta. Dari sisi pendapatan, penjualan produk baja ke pasar lokal berkontribusi paling besar, yakni US$ 1,04 miliar, setara 79% terhadap total pendapatan bersih KRAS 2015.

Sepanjang 2014, pasar lokal menyumbang US$ 1,55 milia, setara 83% total penjualan bersih. Penjualan ekspor tahun 2015 menyumbang US$ 13,66 juta atau hanya 1% total pendapatan.

Sedangkan penjualan ke sektor rekayasa dan konstruksi berkontribusi US$ 113 juta atau 9% total pendapatan. Kemudian penjualan ke sektor jasa pengelolaan pelabuhan, real estat dan perhotelan, serta jasa lain masing-masing menyumbang 4%, 2% dan 6%.

Kinerja buruk tersebut merembet ke operasional perusahaan. Sepanjang tahun lalu, Krakatau Steel membukukan rugi operasi sebesar US$ 183,55 juta. Jumlah tersebut meningkat 159% dibandingkan kerugian operasi tahun sebelumnya, US$ 70,85 juta.

Laba selisih kurs tahun lalu senilai US$ 52,18 juta, tak mampu membendung kerugian bersih. Beban keuangan meningkat 72% year-on-year (yoy) menjadi US$ 88,33 juta. Rapor keuangan KRAS makin tertekan oleh bagian kerugian entitas asosiasi yang naik 60% (yoy) menjadi US$ 112,37 juta.

Meski rapor jeblok, harga saham KRAS kemarin menanjak 2,63% menjadi Rp 430.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie