Beban Produksi Naik, Margin Emiten Plastik Berisiko Tertekan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri plastik hilir masih menghadapi tantangan dari tingginya biaya produksi, beban pendanaan, serta ketidakjelasan realisasi kebijakan bea masuk bahan baku. Kondisi tersebut berpotensi menekan margin dan profitabilitas emiten plastik hingga akhir 2026.

Tekanan biaya tercermin dalam laporan keuangan semester I-2026 sejumlah emiten plastik hilir. Beban pokok penjualan atau Cost of Goods Sold (COGS) mengalami peningkatan, sementara liabilitas jangka pendek, khususnya utang bank, juga tumbuh dibandingkan akhir tahun sebelumnya.

Lihat saja, PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID), PT Primadaya Plastisindo Tbk (PDPP), dan PT Argha Karya Prima Industry Tbk (AKPI) masih mencatatkan pertumbuhan laba dalam laporan keuangan terakhir. Bahkan, AKPI berhasil berbalik dari rugi menjadi laba.


Baca Juga: IHSG Dibuka Jatuh 1,12% ke 6.079 Selasa (29/9), Ini Sentimen yang Membebani Bursa

Sementara itu, kinerja PT Asiaplast Industries Tbk (APLI) dan PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) mengalami tekanan dengan penurunan laba.

Di tengah kondisi tersebut, kenaikan COGS pada kelompok emiten plastik tersebut berada di kisaran 12% hingga 52%. Utang bank jangka pendek juga mencatatkan kenaikan double digit.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Plastik Hilir Indonesia, Henry Chevalier mengatakan, peningkatan COGS menunjukkan beban produksi industri masih tinggi. Padahal, harga bahan baku mulai mengalami penurunan pada September 2026.

“Kalau kenaikan COGS ini masih terus berlanjut maka dengan sendirinya dapat mengikis laba perusahaan, jadi kami masih menunggu realisasi PMK terkait bea masuk bahan baku 0% yang dapat membantu penurunan beban tersebut,” kata Henry dalam keterangan resmi, Selasa (29/9/2026).

Menurut Henry, industri plastik hilir masih memiliki ketergantungan terhadap bahan baku impor. Karena itu, kepastian kebijakan mengenai bea masuk menjadi salah satu hal yang dinantikan pelaku industri. Ia juga menyambut positif kebijakan relaksasi bea masuk anti dumping yang telah diterapkan pemerintah.

“Saya tidak tahu apakah karena sudah diberikan relaksasi bea masuk anti dumping maka yang 0% impor bahan baku itu hingga saat ini belum juga terealisasi, tapi paling tidak berikan kepastian untuk kami,” ujarnya.

Baca Juga: Rupiah Dibuka Melemah dan Tembus ke Rp 18.000 Per Gram Hari Ini (29/9)

Dari sisi eksternal, Analis Sinarmas Sekuritas Yosua Zisokhi bilang, tekanan terhadap produsen plastik dapat berasal dari pergerakan harga minyak dan pasokan naphtha. Kenaikan harga kedua komponen tersebut berpotensi meningkatkan harga resin yang menjadi bahan baku produk kemasan plastik.

Namun, ruang perusahaan untuk mengerek harga jual dinilai terbatas ketika daya beli konsumen melemah.

“Pelemahan daya beli membuat perusahaan akan mengalami kesulitan untuk meneruskan kenaikan beban tersebut kepada konsumen akhir,” kata Yosua.

Kenaikan COGS yang rata-rata mencapai lebih dari 14% pada emiten plastik kemasan juga perlu dicermati bersama dengan meningkatnya utang jangka pendek. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan tambahan melalui kenaikan biaya pendanaan.

Terlebih, suku bunga The Fed telah naik 25 basis poin menjadi 3,75% hingga 4%. Menurut Yosua, kondisi suku bunga tersebut berpotensi memengaruhi biaya pinjaman perusahaan apabila berdampak pada tingkat suku bunga domestik.

“Ini akan berpotensi menekan volume penjualan yang berpengaruh pada kinerja keuangan. Selain itu, suku bunga the Fed yang meningkat dapat memicu suku bunga bank Indonesia meningkat pula, sehingga beban bunga emiten juga meningkat,” katanya.

Selain persoalan biaya, persaingan dari produk impor juga menjadi tantangan bagi produsen plastik dalam negeri. Oversupply di China berpotensi membuat produk dari negara tersebut masuk dengan harga yang lebih kompetitif.

Yosua mengatakan, efisiensi produksi yang dimiliki produsen China dapat menjadi tekanan bagi perusahaan domestik yang masih menghadapi biaya produksi tinggi.

“Produsen kita berpotensi tidak bisa menjual dengan harga yang kompetitif, bisa kalah saing dari produk China,” ujarnya.

Baca Juga: Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (29/9): Turun Rp 17.000 Jadi Rp 2.580.000 Per Gram

Menurut Yosua, kondisi industri plastik sepanjang 2026 akan sangat dipengaruhi oleh kombinasi harga bahan baku, nilai tukar, serta biaya pendanaan. Dalam situasi tersebut, kekuatan neraca dan kemampuan perusahaan dalam mengelola kenaikan biaya menjadi faktor penting.

“Tahun ini bisa dilihat sebagai stress test bagi perusahaan plastik. Bukan hanya revenue growth yang perlu diperhatikan investor, tetapi apakah perusahaan mampu menjaga gross margin ketika resin naik dan pada saat yang sama mengendalikan leverage dan finance cost,” katanya.

Adapun peluang pemulihan dapat terbuka pada 2027 apabila harga resin dan biaya logistik mulai lebih normal. Efisiensi serta penyesuaian harga yang dilakukan perusahaan pada 2026 berpotensi memberikan dampak terhadap margin ketika tekanan biaya input mulai mereda.

“Perusahaan sudah melakukan repricing dan efisiensi pada 2026, sehingga ketika input cost turun, penurunan tersebut berpotensi langsung terlihat pada gross margin dan laba,” tutup Yosua.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News