Beberapa Asumsi Makro Meleset di 2022, Mulai Inflasi Hingga Nilai Tukar Rupiah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Beberapa asumsi dasar ekonomi makro yang berada dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022, bergerak tidak sesuai dengan patokan, seperti inflasi dan nilai tukar rupiah.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mencatat, pertama, laju inflasi Indonesia pada keseluruhan tahun 2022 tercatat sebesar 5,51%. Sementara itu,  target inflasi dalam APBN 2022 hanya sebesar 3%.

Kedua, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada 30 Desember 2022 mencapai Rp 15.731 per dolar AS atau Rp 14.871 per dolar AS  secara rata-rata year to date. Posisi nilai tukar rupiah ini meleset dari target asumsi makro dalam APBN 2022 yang sebesar Rp 14.350 per dolar AS.


Ketiga, suku bunga Surat Berharga Negara (SUN) 10 tahun yang meleset dari yang sudah di asumsikan sebesar 6,8%. Menurut catatan Sri Mulyani, lelang terakhir pada 6 Desember 2022, dimenangkan sebesar 7,23%.sementara rerata tertimbang yield SBN 10 tahun sebesar 7,05%.

“Suku bunga SUN 10 tahun kita outlook-nya 7,05% di atas asumsi APBN kita yang sebesar 6,80%,” tutur Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KITA, Selasa (3/1).

Baca Juga: Sri Mulyani: Momentum Pemulihan Ekonomi RI Masih Terjaga di 2022

Keempat, Sri Mulyani mengatakan outlook harga minyak mentah Indonesia akan mencapai US$ 97 per barel, meleset dari asumsi APBN 2022 yang sebesar US$ 63 per barel. Ini karena harga minyak sempat menyentuh US$ 100 per barel pada pertengahan 2022.

Harga minyak mentah Indonesia juga meningkat karena dipengaruhi faktor peningkatan permintaan, gangguan di sisi supply dan faktor geopolitik Rusia dan Ukraina.

Sementara itu, data beberapa asumsi makro seperti pertumbuhan ekonomi, lifting minyak, dan lifting gas belum ada catatan terkait perkembangannya hingga akhir tahun 2022.

Akan tetapi, jika dilihat secara outlook-nya, pertumbuhan ekonomi Indonesia meleset dari target. Pemerintah sempat merevisi pertumbuhan ekonomi RI bisa tumbuh hingga 5,4%.

Sementara itu, Sri Mulyani justru menargetkan pertumbuhan ekonomi RI tahun 2022 hanya 5,2%, walaupun target tersebut kembali ke dalam asumsi makro dalam APBN 2022.

Baca Juga: Kemenkeu akan Optimalkan Penggunaan SiLPA Tahun 2022

Kemudian, untuk lifting minyak yang ditargetkan 703.000 barel per hari dalam APBN 2022, kemungkinan tidak akan tercapai. Sebab pemerintah menyebut outlook-nya hanya akan mencapai Kementerian Keuangan mencatat capaiannya hanya 615 ribu per barel. Catatan  terakhir pada Oktober 2022, lifting minyak ada di level 607,2 ribu per barel.

Terakhir, untuk lifting gas jika melihat outlook-nya yang sebesar 958 ribu barel minyak per hari akan meleset dari target dalam APBN yang sebesar 1.036 ribu barel minyak per hari.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari