Beda Arah Pergerakan Harga Emas Antam dan Emas Dunia, Ini Penyebabnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas batangan bersertifikat Antam keluaran PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) tampak mengalami kenaikan harga pada Selasa (21/4). Namun, pada saat yang sama, harga emas dunia justru terkoreksi. Mengutip situs Logam Mulia, harga emas Antam untuk pecahan satu gram naik Rp 40.000 menjadi Rp 2.880.000 pada Selasa (21/4). Harga buyback emas Antam juga naik Rp 50.000 menjadi Rp 2.690.000 per gram. Sebaliknya, mengutip situs Trading Economic, harga emas dunia melemah 0,75% ke level US$ 4.785,77 per ons troi pada Selasa (21/4) pukul 14.10 WIB. Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, kenaikan harga emas Antam terlihat hanya sebagai sinyal antusiasme sesaat di tengah harapan terhadap perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang akan membuahkan hasil atau perdamaian. Namun, faktanya ketidakpastian masih ada.

Baca Juga: Perawatan Berkala, ESSA Industries Indonesia Hentikan Operasional Pabrik Amoniak "Terlalu dini dan rumit untuk mengatakan perang ini berakhir," ujarnya, Selasa (21/4). Sebenarnya, eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah justru akan mendukung penguatan harga emas. Namun, kenaikan harga minyak mentah dunia sebagai akibat penutupan Selat Hormuz akan memicu inflasi dan kenaikan suku bunga acuan. Hal inilah yang membuat laju harga emas dunia tertahan. "Fokus investor emas sebenarnya adalah kapan Selat Hormuz dibuka," kata Lukman. Jika blokade terhadap Selat Hormuz terus berlangsung, maka tekanan inflasi akan berlanjut dan kenaikan suku bunga acuan sulit terhindari, sehingga harga emas dunia terancam koreksi ke kisaran US$ 4.500 per ons troi. Kalaupun terjadi kenaikan, laju harga emas maksimal akan ke level US$ 5.000 per ons troi. Sebaliknya, jika tekanan inflasi dan suku bunga acuan mereda pada akhir tahun atau awal tahun depan, maka harga emas berpeluang melesat ke kisaran US$ 5.700-US$ 6.000 ons troi. Dari situ Lukman menyarankan investor untuk buy on weakness dan sell on correction komoditas emas ketika momentumnya ideal. "Namun, untuk investor jangka panjang, ini adalah kesempatan bagus untuk beli dan hold jangka panjang," tandas dia.

Baca Juga: Mulia Boga Raya (KEJU) Tebar Dividen Tunai Rp 89,88 miliar dari Laba Bersih 2025


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News