KONTAN.CO.ID - OMAHA. Berkshire Hathaway mempercepat pembelian kembali saham (buyback) pada kuartal III 2026. Langkah ini menunjukkan CEO baru Greg Abel lebih bersedia menggunakan cadangan kas perusahaan yang sangat besar dibandingkan pendahulunya, Warren Buffett. Konglomerasi yang berbasis di Omaha, Nebraska, Amerika Serikat (AS), tersebut menyatakan pada Sabtu (7/11) telah membeli kembali saham senilai US$ 9,6 miliar selama kuartal III. Jumlah itu menambah buyback sebesar US$ 4,8 miliar yang dilakukan pada awal tahun, serta sekitar US$ 2 miliar tambahan dalam empat pekan pertama Oktober. Pembelian kembali saham tersebut dilakukan meskipun kinerja bisnis asuransi mengalami penurunan dan menekan laba perusahaan secara keseluruhan.
Baca Juga: Mantan Presiden Paraguay Diperiksa Usai Dimakzulkan Terkait Skandal Bank Digital Buffett, yang kini berusia 96 tahun, mengalami kesulitan menemukan aset atau perusahaan yang layak dibeli menjelang akhir masa kepemimpinannya selama 60 tahun. Ia mengundurkan diri sebagai CEO pada akhir 2025 dan kini tetap menjabat sebagai ketua emeritus. Sementara itu, kuartal Juli-September merupakan kuartal ketiga sejak Abel, 64 tahun, menjabat sebagai CEO. Hingga akhir September, Berkshire memiliki kas dan setara kas sebesar US$ 356,9 miliar. Tahun terbesar perusahaan dalam melakukan buyback terjadi pada 2021, ketika Berkshire membeli kembali saham senilai US$ 27 miliar. Laba operasional Berkshire pada kuartal III turun 6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya menjadi US$ 12,71 miliar, atau sekitar US$ 8.954 per saham Kelas A. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh bisnis asuransi. Laba dari sektor ini merosot 26%, sedangkan laba dari kegiatan penjaminan asuransi (underwriting) turun 43%. Penurunan tersebut termasuk merosotnya laba sebelum pajak perusahaan asuransi Geico sebesar 45%. Kondisi ini dipengaruhi meningkatnya kerugian akibat kecelakaan dan pengeluaran iklan. Sementara itu, laba bersih Berkshire turun 28% menjadi US$ 22,11 miliar. Angka tersebut mencakup keuntungan dan kerugian yang belum direalisasikan dari perubahan nilai saham yang masih dimiliki perusahaan. Berkshire meminta investor untuk tidak terlalu memperhatikan fluktuasi tersebut karena perusahaan belum menjual saham-saham tersebut. Di sisi lain, pendapatan perusahaan meningkat 11% menjadi US$ 105,65 miliar. Pertumbuhan dua digit ini merupakan yang kedua secara berturut-turut, meskipun sejumlah bisnis konsumen mengalami penurunan, termasuk produk pakaian dalam Fruit of the Loom dan kendaraan rekreasi Forest River. Meski ekonomi AS tumbuh pada tingkat tahunan 3,4% pada kuartal III berdasarkan estimasi awal Biro Analisis Ekonomi Departemen Perdagangan AS, inflasi yang masih tinggi dan kenaikan harga bahan bakar membatasi kemampuan konsumen untuk berbelanja.
Baca Juga: AS Bentuk Satuan Tugas Khusus untuk Blokir Jalur Senjata dan Pendapatan Iran Berkshire menyatakan bahwa masih terdapat "ketidakpastian yang cukup besar" terkait dampak berbagai peristiwa ekonomi dan geopolitik, termasuk tarif perdagangan dan perang. Investasi Berkshire sepanjang tahun ini mencakup pembelian saham Alphabet senilai miliaran dolar untuk mendukung pengembangan kecerdasan buatan (AI) oleh perusahaan induk Google tersebut. Namun, harga saham Alphabet saat ini berada di bawah harga diskon yang dibayarkan Berkshire ketika melakukan pembelian. Pada Juli, Abel juga mengeluarkan US$ 6,8 miliar untuk membeli perusahaan pengembang perumahan Taylor Morrison. Selain itu, Berkshire telah mengambil kepemilikan sekitar 4% saham di perusahaan teknologi perangkat lunak asal Italia, Bending Spoons. Cadangan kas Berkshire telah menurun dari US$380,2 miliar pada akhir Maret. Berkshire memiliki puluhan perusahaan di berbagai sektor, termasuk perusahaan asuransi dan reasuransi, perusahaan kereta api BNSF, perusahaan utilitas, industri, manufaktur, serta merek ritel seperti sepatu lari Brooks dan permen See's Candies. Hingga 30 September, Berkshire juga memiliki portofolio saham senilai US$ 335,5 miliar, termasuk saham Alphabet, Apple, dan American Express.
Meskipun telah berinvestasi di sektor AI, banyak investor masih memandang Berkshire sebagai kumpulan bisnis tradisional yang secara keseluruhan mencerminkan kondisi perekonomian yang lebih luas. Harga saham Berkshire mencapai rekor tertinggi pada pekan ini, meskipun pasar saham secara umum mengalami tekanan akibat kekhawatiran investor terhadap AI dan belanja perusahaan teknologi yang dibiayai utang. Hingga Jumat (6/11), saham Berkshire telah naik lebih dari 13% sepanjang 2026. Kinerja tersebut mengungguli indeks S&P 500 lebih dari lima poin persentase.
Baca Juga: Putin Ambil Alih Tujuh Perusahaan Japan Tobacco di Rusia, Begini Dampaknya