KONTAN.CO.ID - Pada 9 Februari 2026 BEI mencatatkan total perputaran likuiditas sebesar Rp 15,84 triliun di pasar reguler. Terjadi anomali menarik di mana ticket size rata-rata pasar berada di angka Rp1,37 juta, namun beberapa emiten mencatatkan ticket size hingga puluhan juta rupiah. Itu pertanda investor bermodal gede meninggalkan jejak kaki sangat nyata di tengah fluktuasi harga. Arus likuiditas menunjukkan dinamika yang kontras antara tekanan jual pada raksasa perbankan dan akumulasi senyap pada sejumlah sektor infrastruktur serta energi. Berdasarkan data ringkasan saham harian, pasar reguler mencatatkan total transfusi likuiditas sebesar Rp15,84 triliun, sementara pasar non-reguler (negosiasi) menyumbang Rp1,97 triliun.
Perburuan di saham lapis kedua dan ketiga
Pada segmen Mid-Small Cap, terdeteksi jejak kaki institusi pada saham-saham dengan ticket size jauh di atas median pasar (Rp1,37 juta). Tirta Mahakam Resources Tbk (TIRT) mencuri perhatian dengan rata-rata nilai transaksi (ticket size) mencapai Rp19,57 juta per transaksi dan CSI sempurna 1,0. Ini mengindikasikan adanya tangan besar yang menyapu bersih penawaran hingga harga penutupan tertinggi. Arkora Hydro Tbk. (ARKO) dan Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP) juga masuk dalam radar hidden gems. ARKO mencatatkan nilai transaksi Rp 40,11 miliar dengan ticket size Rp13,30 juta dan CSI 1,0. Aktivitas ini mencerminkan strategi akumulasi yang sangat terukur oleh pemodal besar tanpa memicu volatilitas berlebih di awal sesi. Baca Juga: IHSG Berpeluang Rebound ke Level 8.200, Ini Strategi dan Saham Pilihan AnalisMelacak jejak strategi serok bawah
Fenomena bottom fishing terlihat jelas pada saham Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC). Meskipun harga terkoreksi 5 poin ke Rp 1.475 per saham, asing justru menyuntikkan likuiditas dengan akumulasi bersih sebanyak 16,90 juta saham. Pola serupa terjadi pada Telkom Indonesia (Persero) Tbk. Meskipun harga TLKM melemah ke Rp 3.350 per saham, tetap mengantongi net buy asing sebesar 5,46 juta. Investor nampaknya memanfaatkan pelemahan harga untuk membangun posisi pada aset-aset yang dianggap terdiskon. BNBR (Bakrie & Brothers Tbk.) pun demikian: Meskipun terkoreksi, terdapat aliran masuk asing sebesar 9,96 juta saham. Ini menunjukkan adanya akumulasi di area support. Baca Juga: Perbaki Kinerja, Bank Tabungan Negara (BBTN) Memperkuat Manajemen RisikoPenjelasan Istilah
Ticket Size: Jejak Kaki Siapa di Pasar?- Ticket Size adalah rata-rata nilai uang yang dikeluarkan dalam setiap satu kali transaksi.
- Cara Hitung: Total Nilai Transaksi dibagi Total Frekuensi.
- Ticket size Kecil: Biasanya didominasi oleh investor ritel yang bertransaksi dalam jumlah sedikit-sedikit.
- Ticket size Besar: Menandakan adanya "Smart Money" atau investor dengan dana besar yang masuk. Mereka tidak mungkin membeli saham hanya Rp 1-2 juta sekali klik; mereka biasanya masuk dengan "tiket" bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah per transaksi.
- Logika Angka: Rentang angkanya adalah 0.0 sampai 1.0.
- CSI 1 (Sangat Kuat): Artinya saham tersebut ditutup di harga tertingginya hari itu (Closed at High). Ini menandakan pembeli sangat agresif sampai akhir sesi, tidak memberi ruang harga untuk turun.
- CSI 0.0 (Sangat Lemah): Artinya saham ditutup di harga terendahnya hari itu (Closed at Low). Penjual sangat dominan menekan harga hingga pasar tutup.
- CSI 0,5: Harga ditutup tepat di tengah-tengah antara harga tertinggi dan terendah.
- Kenapa Penting? CSI membantu kita melihat psikologi pasar. Jika sebuah saham punya CSI tinggi (misal di atas 0.8), berarti ada kepercayaan diri tinggi dari pelaku pasar untuk "menginapkan" saham tersebut karena ekspektasi harga masih akan naik besok.