Begini Outlook Batubara Tahun Depan Menurut Indo Tambangraya Megah (ITMG)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) memproyeksi outlook batubara tahun depan tidak banyak berubah dari tahun ini. Pun demikian, harga batubara diproyeksi tidak banyak berubah dari level saat ini.

Direktur ITMG Yulius Kurniawan Gozali  mengatakan, meski harga saat ini cenderung menurun, prospek batubara saat ini masih jauh lebih bagus dibandingkan kondisi 5 tahun lalu, dimana batubara bergerak di kisaran  US$ 70 sampai US$ 80 per ton.

“Di level saat ini permintaan cukup kuat sehingga harga stabil di US$ 110 sampai US$ 120 per ton,” kata Yulius.


Per September 2023, ITMG mencatatkan harga jual rata-rata alias average selling price (ASP) sebesar US$ 114 per ton.  Estimasi Yulius, harga jual memang cukup volatil namun akan stabil di level saat ini. 

Baca Juga: Harga Saham di Atas Rp 20.000, Ini Kata Indo Tambangraya (ITMG) Soal Opsi Stock Split

“Tidak akan naik banyak, kurang lebih ada di level saat ini,” sambung Yulius.

Yulius tidak menampik, pasokan global batubara termal mulai membaik, seiring dengan meningkatnya ekspor Australia dan stabilnya pasokan Indonesia pada kuartal keempat. 

Ekspor batubara dari Indonesia diperkirakan akan tetap tinggi hingga akhir tahun, meskipun terdapat kendala teknis dan keterlambatan pasokan pada bulan November dan Desember karena terlambatnya persetujuan revisi rencana kerja RKAB.

Meski demikian, Yulis mengaku permintaan batubara juga meningkat, bahkan lebih tinggi dari tahun lalu. Terjadi peningkatan impor batubara termal China pada tahun ini seiring kekhawatiran pasokan dalam negeri. Tingginya harga batubara dalam negeri China diperkirakan akan terus berlanjut hingga akhir tahun.

Di India, tingginya konsumsi batubara didorong oleh pertumbuhan ekonomi dan lemahnya pembangkit listrik tenaga air, sehingga menyebabkan ketergantungan pada impor batubara termal.

Di sisi lain, terjadi pelemahan konsumsi batubara di wilayah Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan akibat berkurangnya kebutuhan listrik, peningkatan produksi energi nuklir dan energi terbarukan, serta risiko menurunnya permintaan pada musim dingin akibat El-Niño.

 
ITMG Chart by TradingView

Baca Juga: Pendapatan Emiten Menara Berangsur Pulih, Ini Rekomendasi Saham Jagoan Analis

Pun demikian di Eropa, dimana pasar batubara masih lemah karena rendahnya permintaan listrik, tingginya energi terbarukan, pasokan gas yang kuat, dan tingginya penyimpanan gas yang mempengaruhi penggunaan batubara.

Sebagai gambaran, pada sembilan bulan pertama 2023, emiten tambang batubara ini  membukukan penurunan kinerja keuangan. ITMG membukukan laba bersih US$ 405,83 juta. Realisasi ini tergerus 54,6% dibandingkan dengan capaian laba bersih di periode Januari-September 2022 yang mencapai 893,81 juta.

Editor: Tendi Mahadi