KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Isu perubahan iklim kini menjadi permasalahan global, di mana setiap negara diminta berkontribusi dalam mengurangi emisi Gas Rumah Kaca. Dunia pun melirik Indonesia sebagai negara yang memiliki ekosistem gambut terbesar keempat dan mangrove terluas di dunia. Pasalnya, ekosistem gambut dan mangrove berperan penting dalam pengendalian perubahan iklim dunia. "Lahan basah merupakan ‘tempat parkir’ air tawar, misal kalau luas gambut 20 hektare dengan kedalaman 5 meter saja, artinya ada 1 triliun kubik air tawar di lahan gambut kita. Sedangkan 3,31 juta hektare mangrove akan menjadi ‘tempat parkir’ karbon,” ungkap Penasehat Senior Yayasan Lahan Basah, I Nyoman Suryadiputra. Lebih lanjut dirinya menambahkan, jika mangrove hancur maka air laut akan naik. Demikian juga jika terlalu banyak kanal di lahan gambut maka dapat menyebabkan gambut mudah terbakar.
Begini peranan gambut dan mangrove Indonesia dalam perubahan iklim dunia
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Isu perubahan iklim kini menjadi permasalahan global, di mana setiap negara diminta berkontribusi dalam mengurangi emisi Gas Rumah Kaca. Dunia pun melirik Indonesia sebagai negara yang memiliki ekosistem gambut terbesar keempat dan mangrove terluas di dunia. Pasalnya, ekosistem gambut dan mangrove berperan penting dalam pengendalian perubahan iklim dunia. "Lahan basah merupakan ‘tempat parkir’ air tawar, misal kalau luas gambut 20 hektare dengan kedalaman 5 meter saja, artinya ada 1 triliun kubik air tawar di lahan gambut kita. Sedangkan 3,31 juta hektare mangrove akan menjadi ‘tempat parkir’ karbon,” ungkap Penasehat Senior Yayasan Lahan Basah, I Nyoman Suryadiputra. Lebih lanjut dirinya menambahkan, jika mangrove hancur maka air laut akan naik. Demikian juga jika terlalu banyak kanal di lahan gambut maka dapat menyebabkan gambut mudah terbakar.