Begini Perkembangan Terkini Proyek Kilang Pertamina



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pertamina makin aktif membangun proyek kilang untuk menjadikan bisnis petrokimia sebagai sumber pendapatan baru di era transisi energi. 

Direktur Utama PT Pertamina Nicke Widyawati menyampaikan sejalan dengan transisi energi, Pertamina telah melakukan penyesuaian dengan mengarahkan proyek revitalisasi kilang. 

Upaya ini tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk kilang tetapi juga memproduksi  petrokimia, gas dan turunannya.


Baca Juga: Proyek RDMP Balikpapan Milik Pertamina Ini Sudah Capai 82%

"Kami menyesuaikan sejak dua tahun terakhir. Jadi kami prioritaskan adalah kita melakukan revitalisasi, meningkatkan kualitas kilang yang ada, karena kilang-kilang dibangun sudah cukup lama," ucap Nicke Widyawati dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VII DPR RI, Selasa (21/11). 

Nicke menjabarkan, Refinery Development Master Plan (RDMP) Balongan sudah beroperasi sejak Juni 2022, sehingga kapasitas produksi nasional bertambah 25.000 barel per hari. 

Saat ini, sedang berjalan RDMP Balikpapan dengan dua milestone yaitu menambah kapasitas kilang 100.000 barel per hari dan meningkatkan kualitas BBM dari standar Euro 2 menjadi Euro 5. 

“Kami rencanakan di April 2024 Indonesia akan memiliki tambahan kapasitas 100.000 barel per hari sehingga totalnya menjadi 1.125.000 barel per hari. Untuk yang berikutnya, peningkatan kualitas itu akan diselesaikan November 2024,” ungkapnya. 

Dalam kaitannya dengan transisi energi Nicke menjelaskan bahwa Pertamina tengah mengembangkan proyek Green Refinery di Kilang Cilacap, Plaju dan Dumai.

Dia menerangkan, ketiga kilang tersebut berkaitan dengan transisi energi. Kilang Dumai dan Plaju akan ditingkatkan kapasitasnya seiring permintaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang diprediksi turun dan permintaan petrokimia meningkat empat kali lipat. 

Saat ini Pertamina juga melaksanakan pembangunan kompleks petrokimia di Balongan dan TPPI, serta Hilirisasi Gas di Bintuni dan Bojonegoro. 

Chief Executive Officer (CEO) Subholding Refinery & Petrochemical Pertamina, Taufik Aditiyawarman menambahkan, kapasitas produksi petrokimia sebagai produk sampingan dari kilang-kilang yang ada sebesar 1.900 Kilotonnes Per Annum (KTPA) dan akan naik empat kali lipat menjadi 7.500 KTPA. 

“Dalam rencana kami yang sedang berkembang di Polytama Propylene di Balongan menambah kapasitas 300.000 ton per tahun, kemudian revamping Olefin TPPI di Tuban dan GRR Tuban sendiri,” ujarnya dalam kesempatan yang sama. 

Taufik menjelaskan lebih lanjut, khusus proyek revamping TPPI di Tuban saat ini masih dalam proses turn around di mana pada awal Desember 2023 akan on-stream.

Dengan begitu akan ada peningkatan kapasitas platforming gasoline yang sebelumnya 50.000 barel per hari menjadi 55.500 barel per hari. 

Baca Juga: Pertamina Pastikan Proyek Kilang Minyaknya Masih Berjalan

Sejalan dengan itu, akan ada peningkatan kapasitas aromatik petrokimia sebesar 30% dari 600.000 ton per tahun menjadi 780.000 ton per tahun. 

Kemudian pencapaian terkini di RDMP Balikpapan, pada November 2023 pihaknya akan melaksanakan gas in dari pipa sejauh 78 kilometer Senipah ke Balikpapan. Kemudian di Desember 2023 akan dilakukan operational acceptance untuk pipa 20 inci Lawe-Lawe ke Balikpapan. 

Selanjutnya pada April 2024 proses revamping unit akan selesai sehingga terjadi penambahan kapasitas pengolahan 260.000 barel per hari menjadi 360.000 barel per hari atau tambahan bahan baku minyak mentah menjadi 100.000 barel per hari di Kilang Balikpapan. 

Selain itu, kapasitas unit diesel di Kilang Balikpapan juga akan naik dari 55.000 barrel perhari menjadi 60.000 barrel perhari. 

“Selanjutnya, akan dilanjutkan Milestone RFCC Mechanical Completion di 24 Agustus 2024  untuk pengolahan produk atau kualitas produk dan gasoline block sendiri akan ada di Januari 2025 penyelesaiannya,” jelasnya. 

Adapun untuk GRR Tuban, Taufik menjelaskan, perkembangan pekerjaan paralel yang sedang dilakukan oleh tim ialah penyiapan 8 paket EPC utama yaitu konsep EPC Financing, kemudian persetujuan penasihat keuangan oleh pemegang saham termasuk juga Rosneft, selaku partner. 

Kemudian pihaknya melakukan persiapan dokumen Final Investment Decission (FID) internal untuk persetujuan investasi dan mengajukan permintaan dukungan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tuban untuk peningkatan keekonomian proyek .Taufik menyatakan, usulan ini ditargetkan mendapat persetujuan di kuartal I 2024. 

“Diharapkan Maret 2024 FID bisa kita dapatkan. Harapannya dengan tentunya dukungan yang pertama adalah infrastruktur dan akses lahan kilang sesuai dengan JV Pertamina dan Rosenft,” ujarnya. 

Keduanya telah menyepakati pembangunan ruas jalan tol Tuban dan rel kereta api dari Babat Tuban Kemudian pelebaran jalan dan penguatan jembatan eksisting di ruas Gresik untuk menunjang kegiatan pada saat konstruksi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi