Begini Proyeksi IHSG Hingga Akhir 2023



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar saham tanah air masih ramai oleh sejumlah sentimen, salah satunya yakni kebijakan suku bunga bank sentral seiring dengan tren pergerakan inflasi.

Tingkat inflasi di Amerika Serikat (AS) untuk bulan Juni tercatat sebesar 3% secara year-on-year (YoY) dari sebelumnya 4% YoY pada Mei 2023. Ini merupakan level inflasi terendah sejak tahun 2021.

Meskipun inflasi utama (headline inflation) turun menjadi 3%, Kepala Riset Yuanta Sekuritas Chandra Pasaribu menyebut, target  Federal Reserve (The Fed) adalah menurunkan inflasi inti (core inflation) ke tingkat 2%. Sementara itu, inflasi inti di bulan Juni masih berada di level 4,8%. Oleh karena itu, Chandra menyebut nada dari the Fed beberapa pekan lalu belum menunjukkan adanya sikap yang lebih lunak terhadap kenaikan bunga.


“Ekspektasi konsensus masih berpikir 92,4% percaya bahwa ada kenaikan Fed rate ke 5,25-5,50 di akhir Juli 2023,” kata Chandra.

Baca Juga: IHSG Bullish, Cek Rekomendasi Saham PGAS, SMRA, DOID, dan ADMR Hari Senin (17/7)

Sehingga, dampak kebijakan tersebut terhadap aset rupiah, baik bond maupun ekuitas, akan tergantung bagaimana pemerintah mampu menjaga kestabilan rupiah. Ini  karena selisih antara suku bunga Bank Indonesia (BI) dengan suku bunga  The Fed saat ini hanya 75 basis points (bps). Jika The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 bps, maka jarak (disparitas) tersebut menjadi hanya 50 bps.

Sebagai acuan, Chandra bilang pada waktu pandemi selisih tersebut bisa antara 250 bps sampai 350 bps. Perbedaan yang semakin menyempit ini bermuara pada sikap investor asing, apakah bisa menerima selisih tingkat bunga yang berpotensi hanya 50 bps.

“Jika tidak, maka rupiah perlu melemah. Dan kalau ini terjadi, tidak ada insentif untuk memegang aset dalam rupiah sekarang ini. Jadi, kestabilan rupiah perlu dijawab dulu sebelum kita bicara investasi di aset rupiah, apakah itu bonds atau ekuitas,” sambung dia.

Baca Juga: IHSG Dibuka Menguat, Intip Proyeksi dan Saham Pilihan dari Bahana Sekuritas

Sementara itu, Analis Kanaka Hita Solvera Raditya Krisna Pradana menilai, selain inflasi dan suku bunga, katalis utama bagi IHSG adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini diproyeksikan berada pada rentang 4,5% sampai 5,3%, sedangkan pertumbuhan ekonomi global diproyeksi pada rentang 2,8% sampai 3%.

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Riset Ciptadana Sekuritas Arief Budiman. Selama ekonomi Indonesia terus tumbuh, kinerja pasar ekuitas akan solid ke depan. Fundamental ekonomi Indonesia telah mengungguli ekspektasi pasar dengan mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,03% pada kuartal pertama 2023, didukung oleh konsumsi sektor swasta dan ekspor yang kuat.

Menjelang pemilihan umum presiden yang dijadwalkan akan diadakan pada 14 Februari 2024 mendatang,  Arief berekspektasi pasar akan berfokus pada pemilihan yang semakin dekat. Indeks biasanya mengalami kenaikan dalam waktu enam bulan sebelum Pemilu.

Baca Juga: IHSG Naik di Hari Perdagangan Keenam Beruntun, Senin (17/7)

Adapun selama empat episode terakhir pemilihan umum, yakni pada 2004, 2009, 2014 dan 2019, terlihat IHSG mengalami kenaikan rata-rata 20%. Oleh karena itu, Arief meyakini target akhir tahun IHSG yang dipasang Ciptadana Sekuritas yakni sebesar 7.500 atau dengan upside 12% dari level saat ini, dapat dicapai.

Raditya memprediksi IHSG akan menguji level all time high di level 7.369 pada akhir tahun. Sementara Chandra memproyeksi IHSG akan berada di rentang 7.200-7.300 hingga akhir tahun ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati