KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
Besarnya eksposur ke portofolio kredit berisiko tak menghalangi bank digital menekan turun rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL). Meski, tak semuanya berhasil. Dalam pantauan Kontan, hingga Juni 2026 ada setidaknya lima bank digital yang berhasil menurunkan NPL dibanding tahun sebelumnya. Mereka adalah BCA Digital yang turun dari 0,95% menjadi 0,94%, Superbank turun dari 2,7% menjadi 1,64%, Seabank turun dari 1,68% menjadi 1,65%, Bank Neo Commerce turun dari 3,1% menjadi 2,99%, dan Amar Bank yang turun dari 10,86% menjadi 8,96%.
Direktur Keuangan Superbank, Melisa Hendrawati menjelaskan, penurunan NPL ini tak lepas dari proses manajemen risiko yang sangat dalam sebelum bank menyalurkan kredit. Sejatinya, portofolio kredit Superbank didominasi ritel dan UMKM. Secara umum, segmen ini memang memiliki risiko kredit yang lebih tinggi. Namun, Melisa bilang pihaknya mereduksi risiko dengan tak cuman mengandalkan scoring dalam analisis kelayakan kredit, tetapi juga mengandalkan data alternatif yang dimiliki ekosistem perusahaan.
Baca Juga: Pendapatan Bunga Bersih Bank Digital Meningkat, Ditopang Ekspansi Kredit “Kalau kita mengombinasikan scoring dengan alternatif data yang kita punya, itu bisa mendapatkan insight yang luar biasa. Beda sekali hasilnya dengan scoring tradisional,” ujar Melisa saat ditemui Kontan, Rabu (9/9/2026). Sekadar mengingatkan, Superbank didukung oleh ekosistem Grab yang memiliki jangkauan luas terhadap segmen ritel dan UMKM. Dari situ, didukung dengan ketatnya prudential banking dan utilisasi akal imitasi (AI), Superbank mempelajari behaviour calon debitur sehingga analisis kredit lebih terinci dan risiko kredit bisa ditekan. Melisa mengakui bahwa data alternatif dari ekosistem bisnis menjadi salah satu landasan utama bank dalam penyaluran kredit. “Untuk ritel dan UMKM, tanpa ada data pendukung dari ekosistem, terus terang kami juga akan selektif,” sebutnya. Di luar itu, Melisa bilang Superbank bakal senantiasa menegakkan dua pilar utamanya, yakni growth (pertumbuhan) dan profitability (keuntungan). Dalam hal ini, ia memastikan laju pertumbuhan kredit bakal selalu diupayakan sejalan dengan terjaganya kualitas aset untuk mendorong profitabilitas. Di sisi lain, ada lima bank digital yang justru mencatatkan kenaikan NPL. Mereka adalah Bank Raya yang naik dari 4,03% menjadi 4,68%, Krom Bank yang naik dari 2,7% menjadi 3,04%, Allo Bank yang naik dari 1,53% menjadi 1,73%, Hibank yang naik dari 0,83% menjadi 1,16%, dan Bank Jago yang naik dari 0,27% menjadi 0,77%.
Baca Juga: Strategi Bank Digital Salurkan Kredit 2026, Fintech Jadi Mesin Pertumbuhan Digital Strategy Head Allo Bank, Destya D. Pradityo menyebut kenaikan NPL bank ini sebagai area yang terus dipantau ketat oleh bank, bukan sesuatu yang mengubah arah strategi bisnis. Toh, kenaikan NPL diikuti oleh kenaikan penyaluran kredit yang masif. Asal tahu saja, dalam periode yang sama kredit Allo Bank tumbuh 28% dalam setahun, didukung oleh perkembangan segmen ritel dan wholesale. Ia melihat ekspansi portofolio yang cukup signifikan ini masih diikuti oleh posisi NPL yang di bawah ketentuan regulasi. Destya memastikan kualitas aset tetap menjadi prioritas utama dalam pertumbuhan bisnis. Dalam hal ini pihaknya memperkuat proses underwriting berbasis data, segmentasi dan risk-based pricing yang semakin granular, monitoring kualitas kredit secara lebih dini, serta penguatan collection dan early warning system.
“Kami juga terus melakukan evaluasi terhadap performa masing-masing segmen dan produk sehingga apabila terdapat indikasi perubahan risiko, langkah mitigasi dapat dilakukan lebih cepat,” papar Destya. Kendati begitu, menurutnya tetap ada faktor-faktor eksternal yang dapat memengaruhi arah pergerakan NPL bank digital, yakni perkembangan daya beli dan kemampuan bayar masyarakat, kondisi sektor usaha dan employment, arah suku bunga, serta perkembangan makroekonomi secara keseluruhan.
Baca Juga: Bank Digital Adu Strategi Demi Memacu Pertumbuhan Kredit di Sisa Tahun 2026 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News