KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) menyiapkan sejumlah strategi untuk memperkuat penyaluran kredit tahun 2026 ini. Tak cuma memperkuat basis di segmen korporasi, bank konglomerasi ini juga mulai menyasar pasar ritel untuk kredit konsumsi. Hingga Maret 2026,
outstanding kredit Bank INA mencapai Rp 14,78 triliun, tumbuh 10,36% secara tahunan (
year-on-year/yoy).
Secara komposisi, kredit modal kerja mendominasi sebanyak Rp 8,79 triliun, menyusul kredit investasi sebesar Rp 4,39 triliun, dan kredit konsumsi sebanyak Rp 1,59 triliun. Kendati begitu, jika melihat tren pertumbuhannya, kredit konsumsi mencetak catatan terbaik dengan pertumbuhan 15,52% yoy. Sementara kredit investasi tumbuh 6,9% yoy, dan kredit modal kerja justru terkoreksi sampai 10,07% yoy.
Baca Juga: Bank INA Perdana (BINA) Bidik Pertumbuhan Organik untuk Naik Kelas KBMI 2 Wakil Direktur Utama Bank Ina Yulius Purnama Junaedi menyebut, kredit konsumsi kini memang menjadi salah satu yang dilihat bank prospektif. Apalagi, mulai 2023 bank konglomerasi ini masuk ke segmen kredit pemilikan rumah (KPR). Yulius juga menyoroti angka konsumsi rumah tangga yang menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) masih tumbuh 5,52% yoy pada kuartal I-2026. “Dari situ kami melihat bahwa dari sektor ritel, kredit konsumsi masih ada potensi yang besar untuk tumbuh,” jelasnya dalam paparan publik di Jakarta, Rabu (13/5/2026). Di luar itu, Yulius bilang pihaknya juga bakal memanfaatkan ekosistem Salim Group. Dalam hal ini, bank membidik sektor UKM (usaha kecil menengah) dari sulur-sulur usaha grup, serta kredit rantai pasok.
Secara keseluruhan, bank melihat saat ini dunia usaha sedang dalam kondisi penyesuaian atau
rebalancing, sehingga ada sektor bisnis tertentu yang mulai turun dan lainnya tumbuh.
Baca Juga: Binadigital Bank INA Luncurkan Fitur Investasi Emas Digital Yulius bilang dalam hal ini bank bakal fokus pada industri-industri yang masih prospektif untuk mempertahankan basis kredit investasi. “Jadi optimisme masih ada dan kami juga terus, baik secara di kredit konsumsi, kredit modal kerja kami masuk ke ekosistem grup, dan kredit investasi kami memilih industri-industri yang memang masih akan maju ke depannya,” tukas Yulius. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News