KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) imbas meningkatnya harga minyak dunia dapat memengaruhi kinerja emiten transportasi dan logistik. Asal tahu saja, per 1 April 2026, pemerintah menahan kenaikan harga BBM baik subsidi maupun non-subsidi. Meskipun begitu, potensi penyesuaian harga BBM ke depan tetap ada jika konflik Timur Tengah yang mengerek harga minyak dunia berlanjut. Sebagai salah satu penyedia layanan transportasi, PT Blue Bird Tbk (
BIRD) melihat potensi kenaikan harga BBM sebagai bagian dari dinamika operasional yang perlu diantisipasi.
Direktur Utama Blue Bird Adrianto Djokosoetono mengatakan, gejolak global saat ini juga dapat berdampak pada perubahan pola permintaan, baik dari waktu, lokasi, maupun kebutuhan layanan.
Baca Juga: Samudera Indonesia (SMDR) Intip Peluang di Galangan Kapal Komersial “Ketidakpastian geopolitik merupakan faktor eksternal yang dapat memengaruhi daya beli masyarakat dan pola mobilitas,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (2/4/2026). Oleh karenanya, sebagai strategi pengelolaan dampak, BIRD melakukan penyesuaian strategi operasional dan penguatan efisiensi biaya. Dengan begitu, perusahaan tetap dapat menjaga stabilitas layanan di tengah ketidakpastian. Di lain sisi, Adrianto menyebut BIRD juga terus memperkuat struktur operasional melalui diversifikasi sumber energi. “Hal ini termasuk pemanfaatan armada berbasis
compressed natural gas (CNG) dan electric vehicle (EV), untuk membantu mengurangi sensitivitas terhadap fluktuasi harga BBM,” katanya. Lebih lanjut, BIRD juga disebut akan terus memperkuat pendekatan operasional yang adaptif, dengan melakukan penyesuaian kapasitas dan penempatan armada secara lebih presisi di titik-titik permintaan. Menurut Adrianto, dengan pengawasan yang terintegrasi, BIRD memastikan layanan tetap berada pada level optimal. Sehingga, kinerja perusahaan dapat tetap terjaga di tengah dinamika global. Maka, pada tahun ini, BIRD mengalokasikan belanja modal yang mayoritas digunakan untuk mendukung penguatan dan ekspansi armada. Meskipun nominal belanja modal tersebut tak dibeberkan, ia bilang, BIRD akan berfokus pada peremajaan dan penambahan armada guna menjaga kualitas layanan, serta memperkuat ekosistem layanan multimoda. “Selain itu, sebagian alokasi juga digunakan untuk pengembangan fasilitas operasional, termasuk
pool dan infrastruktur pendukung lainnya,” jelas Adrianto. Dus, Blue Bird masih membidik pertumbuhan kinerja pada tahun ini, walaupun tak merinci angka. Menurut Adrianto, target pertumbuhan ini didukung oleh penguatan di seluruh lini bisnis, baik taksi maupun non-taksi, serta strategi perusahaan yang berfokus pada peningkatan kualitas layanan dan solusi bagi pelanggan. Ke depan, BIRD akan mengoptimalkan permintaan, memperluas jangkauan layanan di kota-kota strategis, serta menjaga efisiensi operasional. “Dengan fondasi tersebut, perusahaan optimistis dapat menjaga tren pertumbuhan yang berkelanjutan di tengah dinamika industri yang ada,” tandasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News