KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Telkom Indonesia Tbk (
TLKM) tengah fokus memperkuat bisnis inti dengan menggelar divestasi entitas usaha. Terbaru, TLKM telah melepas AdMedika Group kepada Fullerton Health. Asal tahu saja, AdMedika merupakan perusahaan pengelola layanan administrasi kesehatan atau
third party administrator (TPA) yang menyediakan solusi manajemen klaim dan layanan kesehatan bagi korporasi dan institusi. VP Corporate Communication Telkom Andri Herawan Sasoko menyampaikan langkah tersebut merupakan bagian dari penataan portofolio bisnis dalam implementasi strategi transformasi TLKM 30.
“Langkah ini dilakukan untuk memperkuat fokus TelkomGroup pada core business di sektor telekomunikasi dan layanan digital,” kata dia saat dihubungi Kontan belum lama ini. Baca Juga: Arus Logistik Semakin Meningkat, Pelindo Siapkan Strategi Antisipasi Kepadatan Dia bilang, AdMedika memiliki potensi pertumbuhan yang kuat di industri kesehatan. Dengan bergabung bersama Fullerton Health, AdMedika diharapkan dapat mengakselerasi pengembangan bisnis. Ke depannya, TelkomGroup secara berkelanjutan melakukan penataan portofolio bisnis dan
streamlining sebagaimana diamanatkan oleh Danantara. Berbagai opsi akan dipertimbangkan oleh TLKM. “Melalui berbagai opsi strategis seperti merger, transfer bisnis, kemitraan strategis, maupun divestasi, tetapi rencana spesifik terkait entitas tertentu saat ini masih dalam tahap kajian komprehensif,” ucapnya. Andri menegaskan, setiap langkah
streamlining dilakukan secara prudent dengan memastikan keselarasan terhadap
core business TelkomGroup sebagai perusahaan digital telco. Senior Equity Research Analyst Phillip Sekuritas Indonesia Edo Ardiansyah mengatakan ada potensi re-rating terhadap TLKM seiring dengan transformasi perusahaan menuju model
strategic infrastructure holding. Phillip Sekuritas Indonesia memberikan rekomendasi beli TLKM dengan target harga di Rp 4.200 per saham. Ini didasarkan pada proyeksi valuasi 26026 dengan PE sebesar 19,3 kali, PBV 2,3 kali dan EV/EBITDA sebesar 4,6 kali.
“Ini masih relatif menarik dibandingkan rata-rata historis dan perusahaan sejenis di kawasan, dengan adanya potensi re-rating seiring transformasi menuju
strategic infrastructure holding,” jelas Edo. Menurutnya, profil
risk-reward tetap menarik, didukung oleh stabilisasi kinerja segmen seluler, monetisasi aset fiber melalui skema
open-access, serta komitmen yang kuat terhadap pembagian dividen. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News